Friday, April 16, 2010

Ziarah makam Syuhada Uhud


bukit rummat, bukit para pemanah di kaki gunung Uhud

Ada banyak peristiwa heroik di seputar perang Uhud. Keberanian, pengorbanan, pengkhianatan, ketamakan, dan semua sifat alami manusia tampak dalam peperangan paling berdarah dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW. Hal tersebut menginsiprasi saya untuk mengunjungi tempat tersebut di sela-sela waktu arbain, tepat tanggal 1 Januari 2009 yang lalu.

Secara geografis, lokasi perang uhud terletak di seputar bukit Rummat, kurang lebih 5 mil di luar kota Madinah. Tempat ini terkenal sebagai medan peperangan antara umat Islam dan golongan kafir Quraisy pada tanggal 15 Syawwal 3 H (Maret 625 M) yang kemudian disebut Perang Uhud. Gunung ini merupakan bagian dari dataran tinggi yang membentang dari utara ke selatan dan menyebar ke timur dan kemudian membentuk bukit-bukit sendiri. Bukit-bukit itu hampir tidak memiliki karena merupakan dataran tinggi berbentuk persegi panjang. Daerah di sekitar dataran ini gersang dan tandus, ditutupi bebatuan dan pasir. Hanya di bagian selatan terdapat ladang-ladang gandum dan tanah perkebunan yang dialiri selokan kecil. Akan tetapi, daerah itu terkadang dilanda banjir dari curahan hujan lebat.



Dengan berjalan kaki dari masjid Nabawi, saya menyusuri jalan-jalan kota Madinah yang lebar tapi sepi, sebelum akhirnya sampai di tempat itu.


jalan di kota Madinah yang lebar tapi sepi

Banyak peziarah yang datang dan berdoa di seputar makam para syuhada Uhud. Saya sendiri kemudian naik ke atas bukit Rummat, bukit para pemanah yang legendaris itu. Dari atas tempat yang strategis itu, dahulu terjadi malapetaka akibat ketamakan dan keserakahan anak manusia akan harta dunia. Dengan memutari bukit itu pula, Khalid bin Walid membuktikan kehebatan strategi tempurnya dan menghabisi pasukan panah muslim yang masih bertahan di atas bukit. Di sekitar bukit itu pula, Hamzah, paman Nabi, dihabisi dengan tombak oleh Washi, sebelum akhirnya dibelah dadanya dan dikeluarkan jantungnya oleh Hindun.


makam syuhada Uhud

Barangkali referensi tentang perang tersebut bisa saya nukilkan disini, bersumber dari situs brain-news.blogspot dengan beberapa perubahan.

Pasca kekalahan pada perang Badar Kubro, pihak Quraisy sepakat untuk melakukan pertempuran lagi dengan pihak muslimin Madinah sebagai bentuk balas dendam. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menghimpun kembali barang dagangan yang bisa diselamatkan Abu Sofyan yang juga menjadi penyebab terjadinya perang Badar Kubro, sehingga terkumpullah seribu ekor onta dan seribu lima ratus dinar. Tentang hal ini Allah menerangkan dalam ayat,

“ Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (Al-Anfal: 36)

Setelah genap setahun, persiapan mereka pun benar-benar matang. Tidak kurang dari 3000 prajurit Quraisy sudah berhimpun bersama sekutu-sekutu mereka dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quraisy juga membawa 15 wanita untuk memberi semangat mereka ketika perang nanti. Hewan pengangkut dalam pasukan Makkah ada 3000 onta, penunggang kudanya ada 200 orang yang disebar di sepanjang jalan yang dilalui, dan yang menggunakan baju besi ada 700 orang. Komandan pasukan yang tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan penunggang kuda dipegang oleh Khalid bin Walid dibantu Ikrimah bin Abu Jahal, dan bendera perang diserahkan kepada Bani Abdid-Dar. Pasukan Makkah mengambil jalur utama ke arah barat menuju Madinah, lalu melewati Abwa’. Kemudian melewati wadi Al-Aqiq, lalu membelok ke arah kanan hingga tiba di dekat bukit Uhud yang disebut Ainain, di sebelah utara Madinah. Pasukan mengambil tempat tersebut sebagai tempat perkemahan pada tanggal 6 syawal 3H.

Persiapan kaum muslimin.
Al-Abbas bin Abdul Muthalib yang masih menetap di Makkah terus memata-matai setiap persiapan militer pihak Quraisy. Ketika pasukan Quraisy mulai berangkat ke Madinah, maka Al-Abbas mengirim surat kilat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melalui seorang utusannya yang sampai di Madinah hanya dalam jangka waktu 3 hari. Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendapat kabar secara rinci tentang pasukan Quraisy, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam langsung bermusyawarah dengan para pemuka muhajirin dan anshar. Hasil musyawarah itu memutuskan Madinah dalam keadaan siaga satu. Tak seorangpun lepas dari senjatanya, sekalipun dalam keadaan shalat. Beberapa shahabat anshar selalu menjaga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan selalu berada didekat pintu rumah beliau. Setiap pintu gerbang Madinah pasti ada sekumpulan penjaga, karena dikhawatirkan musuh menyerang secera tiba-tiba. Ada pula sekumpulan orang-orang muslim yang bertugas memata-matai setiap gerakan musuh. Mereka berputar-putar pada setiap jalur yang bisa saja dilalui orang-orang musyrik untuk menyerang orang-orang muslim.

Ketika Rasulullah mendapat kabar dari mata-matanya bahwa pasukan Quraisy telah sampai di Ainain, maka Rasulullah menggelar majelis permusyawaratan militer untuk menampung pendapat para shahabat dan menentukan sikap. Dalam majelis itu, Rasulullah mengusulkan agar kaum muslimin menggunakan strategi defensif. Jika pasukan Makkah tetap bertahan di luar Madinah tanpa mau meakuakn serangan, maka biarlah mereka berbuat begitu dan keadaan ini dibiarkan begitu tanpa kejelasan. Jika pasukan Quraisy masuk ke Madinah, maka orang-orang muslim akan menyerbu di mulut-mulut gang dan para wanita akan melancarkan serangan dari atap rumah.

Sekumpulan para Shahabat yang sebelumnya tidak ikut dalam Perang Badr mengusulkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam agar keluar dari Madinah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akhirnya memutuskan untuk keluar dari Madinah dan bertempur di kancah terbuka.

Pembagian pasukan dan keberangkatan ke medan perang
Sehari sebelum terjadinya perang Uhud, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat jum'at bersama orang-orang muslim, dan menyampaikan nasihat dan perintah dengan penuh semangat, mengabarkan bahwa kemenangan pasti menjadi milik orang-orang muslim.
Selanjutnya beliau membagi pasukannya menjadi 3 kelompok :
1. Kelompok Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Abdary
2. Kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
3. Kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh
Pasukan ini terdiri 1000 prajurit, 100 prajurit mengenakan baju besi, dan 50 orang penunggang kuda.

Setelah melewati Tsaniyyatul-Wada’ dari kejauhan terlihat satuan pasukan lengkap dengan persenjataannya. Ketika ditanyakan dari kelompok manakah mereka itu? Dikabarkan bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi yang menjadi sekutu Khazraj yang belum masuk Islam, maka beliau menolaknya.

Sesampainya disuatu tempat yang disebut Asy-Syikhany, beliau menginspeksi pasukan dan menolak keikutsertaan prajurit yang usianya masih terlalu muda dan belum mampu terjun ke kancah perang, salah satunya adalah Usamah bin Zaid. Karena sudah petang, beliau memutuskan untuk berhenti di tempat itu untuk shalat maghrib, kemudian isya’ bersama seluruh pasukan, beliau memilih 50 orang untuk berjaga berkeliling di sekitar pasukan dan memilih Dzakwan bin Abd Qais untuk menjaga beliau.

Sesaat sebelum fajar menyingsing, dan shalat shubuh hampir dilaksanakan,tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot dan tidak kurang dari sepetiga pasukan menarik diri. Abdullah bin Ubay beralasan karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengabaikan pendapatnya untuk mengambil inisiatif defensif dan lebih mendengarkan pendapat orang lain. Namun tujuan pokoknya adalah ingin menimbulkan keguncangan dan keresahan di tengah pasukan muslimin setelah melihat dan mendengar pasukan musuh, sehingga kaum muslimin banyak yang mundur dan sisanya banyak yang jatuh mentalnya. Cara ini bisa mempercepat kehancuran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sehingga kejayaan kepemimpinan Madinah berada di tangan orang-orang munafik.

Hampir saja Abdullah bin Ubay berhasil mewujudkan rencananya. Bani Haritsah dari Aus dan Bani Salimah dari Khazraj hampir saja kehilangan semangat, tetapi Allah cepat mengusai golongan ini, sehingga mereka menjadi tegar kembali. Allah berfirman tentang dua golongan ini,
“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Ali Imran: 122)

Tentang orang-orang munafik ini Allah berfirman,
“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu". mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (Ali Imran: 167)

Setelah pengunduran diri dari pasukan Abdullah bin Ubay, akhirnya Rasulullah melanjutkan perjalanan dengan sisa yang terdiri dari 700 prajurit hingga mendekati musuh. Pasukan musyrikin mengambil tempat yang menghalangi pasukan muslim dengan bukit Uhud. Pasukan muslim berjalan dengan melewati kebun seorang musyrikin yang bernama Mirba’ bin Qaizhy. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meneruskan perjalanan hingga tiba di kaki bukit uhud. Pasukan muslimin mengambil posisi menghadap ke arah Madinah dan memunggungi Uhud, sehingga pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

Rasulullah kemudian membagi tugas pasukannya. Beliau menunjuk satu kelompok yang terdiri dari para pemanah ulung yang dipimpin oleh Jubair bin An-Nu’man Al-Anshary Al-Ausy. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar mereka menempati posisi di atas bukit, sebelah selatan Wadi Qanat, yang sekarang terkenal dengan sebutan Jabal Rumat. Tujuan dibentuknya detasemen ini adalah untuk melindungi pasukan muslimin dari arah belakang, Rasulullah, “lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita di atas angin atau pun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu.” Dengan ditempatkannya satu kelompok ini di atas bukit, maka beliau sudah bisa menyumbat satu celah yang memungkinkan bagi pasukan Quraisy untuk menyusup ke dalam barisan pasukan muslimin.

Pasukan muslimin di sayap kanan di pimpin oleh Al-Mundzir bin Amr, sedang di sayap kiri di pimpin oleh Az-Zubair bin Al-Awwam. Pasukan ini masih di dukung oleh satuan pasukan yang di pimpin oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad. Pengaturan ini merupakan strategi yang sangat bijaksana dan sekalligus amat detail yang menggambarkan kecerdikan Rasulullah sebagai komandan perang. Beliau menunjuk beberapa orang di front terdepan, yang terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa dan pemberani. Pengaturan pasukan ini di lakukan Rasulullah pada Sabtu pagi tanggal 7 Syawal 3 H.

Rasulullah melarang semua pasukan melancarkan serangan kecuali atas perintah beliau. Sambil menghunus pedang yang tajam beliau berseru, “Siapakah yang ingin mengambil pedang ini menurut haknya?” Ada beberapa shahabat yang maju, namun pedang itu belum diserahkan juga, hingga akhirnya Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju dan bertanya, “Apa haknya wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Hendaklah engkau membabatkan pedang ini ke wajah-wajah musuh hingga bengkok”. “Aku akan mengambilnya menurut haknya wahai Rasulullah”, jawab Abu Dujanah. Kemudian Rasulullah memberikannya.

Pengaturan pasukan Makkah
Komandan pasukan tertinggi orang-orang musyrik ada di tangan Abu Sufyan bin Harb. Kavaleri (pasukan berkuda) Quraisy di sayap kanan dipimpin oleh Khaid bin Walid dan sisi lainnya di pimpin Ikrimah bin Abu Jahl. Pasukan infanteri (jalan kaki) di pimpin Shafwan bin Umayyah, sedang para pemanah di pimpin Abdullah bin Rabi’ah. Yang terakhir, bendera perang di serahkan kepada beberapa orang dari Bani Abdid-Dar. Sebelum pecah peperangan, pihak Quraisy berusaha menciptakan perpecahan di dalam barisan kaum muslimin, dengan trik mengirimkan surat kepada kaum anshar agar menyerah. Tapi pasukan muslimin pun membalas surat tersebut dengan pedas hingga membuat merah telinga Abu Sufyan saat mendengarnya.

Awal meletusnya bara peperangan
Yang pertama kali menyulut bara pertempuran adalah para pembawa bendera dari kaum musyrikin, yaitu Abu Thalhah bin Abu Thalhah Al-Abdary. Dia mengajak adu tanding sampai dua kali, tapi tak seorangpun segera menyambut tantangannya. Pada tantangan yang ketiga, akhirnya majulah Az- Zubair dengan cara langsung melompat layaknya seekor singa, sehingga belum sempat Abu Thalhah turun dari punggung ontanya, Az-Zubair sudah menusukkan pedangnya hingga Abu Thalhah terjerembab dan mati.

Setelah itu petempuran pun meletus dan semakin mengganas diantara kedua belah pihak. Semua sudut menjadi kancah pertempuran, semakin lama semakin panas dan yang paling berat ada di sekitar bendera orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik bergantian memegang bendera hingga 10 orang, namun semuanya terbunuh. Tiba-tiba muncul seorang pembantu mereka yang berasal dari Habasyah yang maju membawa bendera yang bernama Shu’ab, tapi dia pun terbunuh dan bendera pasukan Quraisy jatuh ke tanah.

Pertempuran semakin lama semakin panas, pasukan muslim menyerbu ke tengah pasukan musyrikin layaknya air bah. Abu Dujanah menyeruak sambil membawa pedang yang di berikan oleh Rasulullah, dengan satu tekad memenuhi hak pedang itu. Dia tidak berpapasan dengan seorangpun melainkan dia pasti membunuhnya.

Sedangkan Hamzah bin Abdul-Muthalib bertempur bagaikan singa yang sedang mengamuk, bertempur tanpa rasa takut, tanpa ada tandingannya. Dia terus menerjang barisan musuh, hingga akhirnya dia terbunuh di barisan yang paling depan, dia terbunuh layaknya orang baik-baik yang terbunuh di tengah kegelapan malam. Hamzah dibunuh oleh Wahsyi bin Harb penduduk dari Habasyah, tujuannya membunuh Hamzah adalah untuk memenuhi syarat dari tuannya agar dimerdekakan.

Detasemen para pemanah yang diangkat oleh Rasulullah mampu menggagalkan tiga kali serangan musuh dan menghujaninya dengan anak panah. Begitulah roda pertempuran terus berputar dan pasukan muslimin dapat menguasai seluruh keadaan, sehingga mampu membuat pasukan musyrikin kocar-kacir. Saat pasukan muslim tinggal meraih kemenangan atas pasukan Quraisy, terjadi kesalahan fatal yang dilakukan para pemanah, yang tergiur oleh kecintaan duniawi. Sebagian pasukan turun untuk mengambil harta rampasan, sehingga membalikkan keadaan yang menimbulkan kerugian yang amat banyak bagi pasukan muslimin, bahkan hampir saja menimbulkan kematian bagi Rasulullah.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Khalid bin Al-Walid, yang dengan cepat mengambil jalan memutar hingga tiba di belakang dan menyerang kaum muslimin. Sedang saat itu Rasulullah hanya bersama sembilan shahabat saja. Kini di hadapan beliau hanya ada dua jalan, menyelamatkan diri bersama sembilan orang shahabat ke tempat yang lebih aman atau mengumpulkan para shahabat yang cerai berai lalu terus merengsek pasukan Makkah sampai kembali menguasai bukit uhud. Di sini tampak kecerdikan dan keberanian beliau dalam mambaca keadaan. Dengan suara nyaring beliau berteriak, “Wahai hamba-hamba Allah…!” Walau beliau sadar sepenuhnya bahwa orang-orang musyrik akan mendengar ucapan beliau sehingga mereka bisa mengetahui posisi beliau.


bukit Rummat dilihat dari seberang wadi. Dengan menyeberang wadi dan memutari bukit, pasukan berkuda Khalid bin Walid menghabisi pasukan panah kaum Muslim di atas bukit

Saat pasukan muslimin terjepit, banyak di antara mereka yang hilang kendalinya. Tidak ada pikiran lain selain keselamatan dirinya sendiri, dan banyak yang meninggalkan kancah peperangan. Kedua pasukan saling bercampur, sehingga tak jarang orang muslim menyerang orang muslim.

Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak, “Muhammad telah terbunuh”.

Seketika itu juga mental orang-orang muslim menjadi anjlok dan semangat mereka menjadi hilang. Anas berkata, “Apa yagn kalian perbuat sepeninggalnya? Bangkitlah dan matilah seperti matinya Rasulullah,” kemudian Anas berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ampunan kepada-Mu dari apa yang mereka (orang-orang muslim) lakukan, dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan.”

Kemudian Anas berpapasan dengan Sa’d bin Mu’adz, dan bertanya, “Mau kemana wahai Abu Umar?” Anas menjawab, “Di sana ada aroma surga wahai Sa’d. Aku bisa mencium baunya dari arah Uhud.” Kemudian dia beranjak menyerbu pasukan musuh hingga akhirnya syahid.

Tsabit bin Ad-Dahdah berseru kepada kaumnya, “Wahai semua orang Anshar, kalau pun Muhammad benar-benar terbunuh, tapi Allah hidup dan tidak mati. Berperanglah atas nama agama kalian, karena Allah akan memenangkan dan menolong kalian.” Dengan keberanian, semangat dan sifat kesatria para shahabat kembali bangkit.

Dan ketika mereka mendengar kabar terbunuhnya Muhammad adalah bohong semata, maka semakin teballah kekuatan mereka, sehingga bisa memutar jalan dan berhimpun kembali dengan pusat komando. Sementara itu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khathab, Ali bin Abu Thalib dan beberapa shahabat mundur ke barisan belakang untuk menjaga keselamatan Rasulullah.

Setelah berjalan dengan memutar, ada beberapa orang muslim yang berada di samping kiri kanan pasukan Quraisy. Setelah itu peperangan lebih banyak berkobar di sekitar Rasulullah. Maka terjadilah pertempuran yang seru antara orang-orang musyrik dan sembilan Shahabat.

Saat itu adalah saat yang kritis bagi Rasulullah, ketika beberapa orang Quraisy menyerang Rasulullah. Di antaranya Utbah bin Abu Waqqash, yang melempar beliau dengan batu hingga mengenai lambung beliau dan gigi seri serta melukai bibir bawah beliau. Abdullah bin Syihab Az-Zuhry memukul beliau hingga melukai kening beliau. Lalu datang pula Abdullah bin Qami’ah, dia memukul pedang ke baju besi Rasulullah dengan keras, hingga rasa sakitnya beliau rasakan lebih dari sebulan. Hanya saja pukulan itu tidak melukai beliau. Lalu dia memukul beliau pada tulang pipi hingga ada dua keping lingkaran rantai topi besinya yang lepas dan mengenai beliau. Abdullah bin Qami’ah berkata, “Ambilah barang itu untukmu. Aku adalah ibnu qami’ah.” Sambil mengusap darah di keningnya, beliau bersabda, “Aqma’akallah.” Yang artinya, semoga Allah menghinakan dirimu.

Lalu Allah menurunkan ayat,
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Ali-Imran:128)

Ketika orang-orang musyrik bernafsu membunuh Rasulullah, dua orang shahabat yang menyertai beliau, yaitu Sa’d bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah, berjuang dengan segenap keberanian dan kepahlawanan yang jarang ditemui. Mereka berdua terkenal sebagai pemanah ulung di Jazirah Arab, mereka terus melepaskan anak panah guna melindungi Rasulullah dari orang-orang musyrik.

Setelah semua orang-orang Anshar terbunuh, Thalhah maju dan bertempur menghadapi sebelas orang hingga jari-jari tangannya putus. Semua peristiwa ini berjalan dengan cepat. Tak beberapa lama setelah melewati saat-saat yang kritis bagi Rasulullah, ada beberapa shahabat yang sudah berhimpun di sekitar beliau, seperti Abu Dujanah, Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Sahl bin Hanif, Malik bin Sinan (ayah Abu Sa’id Al-Khudry), Ummu Ammarah Nasibah binti Ka’b Al-Maziniyah, Qatadah bin An-Nu’man, Umar bin Al-Khathab, Hathib bin Abu Balta’ah dan Abu Thalhah. Dalam keadaan itu rasulullah terperosok ke dalam lubang yang dibuat oleh Abu Amir Si Fasik, yang memang dibuat untuk menjebak kaum muslimin. Pada saat itu Ali meraih tangan beliau dan Thalhah pun ikut merangkulnya hingga beliau bisa berdiri lagi.

Setelah pemegang panj-panji Islam, ush’ab bin umair terbunuh, Rasulullah menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian bertempur dengan hebat. Pada saat itu Rasulullah bisa menyibak jalan dan bergabung dengan pasukannya. Setelah berkumpul, Rasulullah mundur secara teratur ke jalan bukit bersama pasukannya dengan membuka jalan di antara orang-orang musyrik yang sedang melancarkan serangan. Pasukan musyrikan berusaha menghadang tapi mereka gagal karena harus berhadapan dengan kehebatan para singa Islam.

Justru pada peperangan yang pahit itu, orang-orang muslim kemudian dikuasai rasa kantuk sebagai suatu penentraman hati yang datangnya dari allah. Dengan gambaran keberanian seperti itu, beliau dan para shahabat dapat mencapai jalan bukit dan memberi jalan bagi sisa-sisa pasukan yang lain untuk melewatinya hingga mencapai tempat yang aman.

Setelah rasulullah mendapatkan tempat sebagai pusat komando, orang-orang musyrik melancarkan serangan terakhir, sebagai upaya untuk menghabisi orang-orang muslim. Barulah setelah orang-orang musyrik yakin benar bahwa mereka telah membunuh Rasulullah, mereka kemudian mundur ke garis belakang.

Orang-orang musyrik kemudian berkutat dengan kesibukannya, seperti yang di lakukan Hindun binti Utbah yang mengambil jantung Hamzah lalu mengunyah-ngunyahnya. Karena tidak bisa menelannya maka di muntahkan lagi. Dia juga memotong telinga dan hidung Hamzah lalu menjadikannya sebagai gelang kaki dan kalung.

Kembali ke Madinah
Seusai mengubur para syuhada, Rasulullah kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan beliau berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy. Beliau juga berpapasan dengan wanita dari Bani Dinar, yang suami, saudara dan ayahnya terbunuh dalam perang Uhud. Pada sore hari itu pula, sabtu tanggal 7 syawal 3 H rasulullah tiba di Madinah.

Sedangkan korban yang terbunuh dari kalangan Anshar sebanyak 65 orang, dengan rincian, 41 dari kalangan anshar, 24 dari kalangan Aus. Dari kalangan yahudi ada satu orang yang terbunuh, sedangkan dari kalangan muhajirin hanya empat orang. Sedangkan korban dari kalangan musyrikan sebanyak 30 orang.

Orang-orang muslim berada di Madinah pada malam Ahad, sepulang dari perang Uhud. Suasana duka menyelimuti mereka, apalagi ditambah keadaan badan yang letih dan lelah. Namun dengan begitu mereka tetap berjaga-jaga di dalam dan pinggiran Madinah, khususnya menjaga komandan teringgi, Rasulullah yang sewaktu-waktu bisa terancam bahaya.

Perang Hamra’ul-Asad
Setelah kembali ke kota Madinah, Rasulullah berpikir keras untuk menghadapi segala kemungkinan. Beliau khawatir orang-orang musyrik akan kembali ke Madinah dan menyerang kaum muslimin kembai. Beliau bersama para shahabat kemudian bertekad mengusir pasukan Quraisy saat itu juga.

Esok harinya mereka berangkat ke bukit Uhud, ini terjadi pada hari ahad tanggal 8 syawwal 3 H. Yang boleh ikut adalah para shahabat yang ikut perang pada hari sebelumnya, kecuali Jabir bin Abdullah.

Pasukan Islam tiba di Hamra’ul-Asad, 8 mil dari Madinah. Dan bermarkas di sana. Kemudian muncul Ma’bad bin Abu Ma’bad Al-Khuza’y menemui Rasulullah untuk masuk Islam. Lalu ia memberikan dukungan dan nasehat kepada Rasulullah, ia berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah, kami (orang-orang Quraisy) merasa hebat karena melihat bencana yang menimpa rekan-rekanmu. Namun aku tetap berharap Allah memberikan afiat kepadamu.” Rasulullah kemudian menyuruh Ma’bad agar menyusul Abu Sufyan dan pasukannya serta melecehkannya.

Ternyata apa yang di pikirkan Rasulullah tentang niat pasukan Quraisy yang akan menyerang Madinah itu benar-benar akan dilaksanakan. Saat singgah di ar-rauha’ yang jaraknya 36 mil dari Madinah, Orang-orang musyrik saling mengejek dikarenakan mereka meninggalkan pasukan Islam kembali ke Madinah padahal peperangan telah mereka menangkan. Mereka yang mengejek ini menyemangati orang-orang Quraisy untuk segera menyerbu Madinah. Tapi pendapat ini ditolak oleh Shafwan bin Umayyah dengan kekhawatiran kemenangan yang telah diraih akan hilang jika tetap ingin ke Madinah. Dia memperkirakan pasukan Islam dibantu oleh suku Khazraj. Tapi pasukan Makkah akhirnya sepakat untuk kembali menyerang Madinah.

Sebelum pasukan Makkah beranjak dari tempat itu Ma’bad sudah sampai di tempat mereka dan menemui Abu Sufyan, sedang dia tidak tahu Ma’bad telah masuk Islam. Pada kesempatan ini Ma’bad melaksanakan perintah Rasul yaitu menakut-nakuti Abu Sufyan untuk tidak melanjutkan niatnya untuk menyerang Madinah dikarenakan pihak Madinah telah siap dengan kekuatan penuh menanti pihak Makkah, sehingga akan berakibat kekalahan bagi pihak Makkah. Ini membuat semangat pasukan Makkah menjadi turun dan akhirnya sepakat untuk Kembali ke Makkah.

Dalam perjalanan kembali ke Makkah, mereka bertemu dengan rombongan Abdul Qais yang hendak pergi ke Madinah. Lalu Abu Sufyan menitipkan pesan pada Abdul Qais untuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketika Abdul Qais bertemu dengan Rasulullah di Hamra’ul Asad, dia berkata kepada rasulullah, “Sesungguhnya mereka (pasukan Makkah) telah berhimpun untuk menghadapi kalian, maka waspadalah!”. Tapi justru pesan yang disampaikan ini semakin menambah kemantapan iman kaum muslimin.

Peristiwa ini di abadikan oleh Allah dengan ayat

“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia Telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka", Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali-Imran: 173-174)

Rasulullah berada di Hamra’ul Asad selama tiga hari. Setelah itu beliau kembali ke Madinah. Sebelum kembali, beliau menangkap Abu Azzah Al-Jumahy yang kemudian dibunuh oleh Az-Zubair dan Ashim bin Tsabit. Ini dilakukan karena Abu Azzah mengingkari janji dengan bergabung bersama pasukan Quraisy serta membangkitkan semangat pasukan Quraisy melalui syair-syairnya. Padahal paska perang Badr dia dibebaskan oleh Rasulullah karena kemiskinannya dan putrinya yang banyak dengan syarat tidak boleh lagi memerangi Rasulullah dan kaum muslimin. Rasulullah juga memerintahkan Zaid bin Haritsah dan Amar bin Yasir untuk membunuh Muawwiyah bin Al-Mughirah bin Abdul Ash. Ini terjadi dikarenakan dia tetap berada di Madinah lebih dari tiga hari dan melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Quraisy, padahal sebelumnya dia mendapat perlindungan keamanan dari Rasulullah atas permintaan Utsman bin Affan dengan syarat hanya tiga hari berada di Madinah. Dia ke Madinah untuk menemui keponakannya yaitu Utsman bin Affan.

Itulah kejadian perang Uhud dari awal sampai akhir. Yang pasti perang Hamra’ul Asad bukan merupakan peperangan yang berdiri sendiri tapi merupakan bagian dari perang uhud dan kelanjutannya. Lalu pihak manakah yang memenangi peperangan ini? Yang pasti, pada ujung peperangan ini pasukan Quraisy menarik diri dari kancah peperangan dan kembali ke Makkah dikarenakan takut berhadapan lagi dengan pasukan Islam.


Epilog
Kini kejadian tersebut telah ratusan tahun berlalu. Jabal Uhud tetap tegak berdiri di tengah gurun pasir, di luar kota Madinah. Bukit Rummat, bukit para pemanah yang legendaris itupun tetap berdiri. Ke 70 syuhada Uhud itu pun kini telah mereguk manisnya mati syahid di surge. Makam mereka kini banyak diziarahi kaum muslimin dari seluruh dunia. Dari cerita yang beredar, dahulu pernah daerah di sekitar gunung Uhud tersebut dilanda banjir. Makam Uhud pun tak luput dari terjangan air bah, yang berakibat beberapa mayat syuhada itu pun muncul ke permukaan akibat tanah makam mereka kena erosi, termasuk Hamzah, paman Nabi. Subhanallah…. ternyata setelah sekian ratus tahun terpendam di dalam tanah, jasad-jasad para syuhada Uhud itu masih utuh tanpa mengalami kerusakan sedikit pun.


masjid kecil di samping makam syuhada Uhud

Dalam suasana dingin menusuk, saya menyempatkan diri berdoa di atas bukit rummat. Setelah itu, saya sholat sunnah dua rakaat di masjid kecil di samping makam. Walau tidak disyariatkan, banyak juga dari para peziarah yang menyempatkan diri sholat di masjid ini. Toilet kecil dengan air yang kurang lancar mengalir sampai tidak mampu menampung banyaknya orang yang mau berwudhu.


para pedagang souvenir di sekitar bukit rummat

 Terakhir sebelum kembali ke pemondokan, para peziarah biasanya tidak melewatkan waktu untuk membeli buah tangan. Banyak pedagang kaki lima yang mencari rezeki dengan menggelar dagangan di sini. Meski sebenarnya dilarang, ada juga yang berdagang di atas bukit rummat. Ada yang berjualan tasbih, baju, kurma, rumput fatimah, celak, dan berbagai barang lainnya. Yang favorit adalah kurma muda. Rasanya manis, warnanya masih putih dan kehijauan, serta dikemas dalam keadaan beku.



Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, saya akhirnya kembali ke kota Madinah.

Ya Allah! Berikanlah pahala surga bagi para syuhada Uhud, seperti yang telah Engkau janjikan. Jadikan semangat mereka dalam menegakkan Islam menjadi semangat kami juga, menjadi pengingat kami dalam menjalani hidup. Kalau kami berkeluh kesah karena sulitnya masalah sehari-hari, sesungguhnya itu tidak ada apa-apanya dibanding pengorbanan para syuhada Uhud tersebut. Nikmat Iman yang kami rasakan sekarang ini tak lain karena buah perjuangan mereka. Sungguh tak layak kalau kami berziarah ke jabal Uhud semata karena ingin tahu dan berwisata belaka. Alangkah naifnya kalau kami mengunjungi jabal Uhud semata untuk mencari buah kurma atau tasbih belaka. 

Jauhkanlah kami dari hal-hal seperti itu ya Allah…

Bagikan

Jangan lewatkan

Ziarah makam Syuhada Uhud
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

1 komentar:

Tulis komentar
avatar
Anonymous
April 25, 2010 at 7:29 PM

labbaikallahumma labbaika

Reply

silahkan masukkan komentar anda disini