Thursday, April 27, 2017

, ,

Berkunjung Ke Titik Nol Kilometer Indonesia


Berawal dari adanya kesempatan menjejakkan kaki di Aceh, maka terbersit keinginan untuk berkunjung ke wilayah terluar NKRI. Sekalian, mumpung ada di Aceh. Di sela sela kesibukan menangani PIONIR VIII, tentu bukan hal yang mudah untuk menyempatkan diri kesana. Di samping waktu yang terbatas, lokasi yang jauh, dan sulitnya transportasi menjadi tantangan tersendiri.
Pelabuhan Balohan Sabang
Senin, tgl 24 April setelah sarapan, saya segera meluncur ke pelabuhan Ulee Lheu diantar Ardy, LO dari UIN Ar Raniry Aceh. Waktu sudah menunjukkan 7.30 WIB,  tapi jalanan kota Banda Aceh masih sepi dari kendaraan. Mungkin karena hari ini libur nasional Isra Mi'raj, atau memang tipikal geografis Banda Aceh yang memang lebih ke barat dibanding wilayah lain di Indonesia, entahlah....

Setelah melewati jembatan Kreung Aceh, masjid Baiturrahman, lapangan Blang Padang dan Museum Tsunami, akhirnya kami sampai di masjid Baiturrahim Ulee Lheu. Masjid yang terkenal sebagai salah satu masjid yang selamat dari dahsyatnya tsunami tersebut sebagai penanda kita sudah sampai di wilayah pelabuhan.

Pelabuhan Ulee Lheu adalah pelabuhan yang melayani penyeberangan ke Pulau Aceh, Pulau Breueh, dan pulau Sabang. Tentu, sebagai pulau terbesar dan terluar, pulau Sabang adalah yang paling favorit. Setiap hari penyeberangan dari dan ke Pulau Sabang selalu ramai dengan penumpang. Bahkan di akhir pekan atau long weekend, tiket selalu sold out jauh jauh hari sebelumnya.

Di kalangan masyarakat setempat, Pulau Sabang juga dikenal sebagai pulau Weh. Dalam bahasa Aceh, Weh berarti pindah. Namun kebanyakan orang sepakat disebut Pulau Weh karena secara geografis, bentuk pulau Weh mirip dengan huruf W.


Ada dua cara untuk menyeberang ke Pulau Sabang dari Banda Aceh. Pertama, menggunakan kapal ferry (kapal lambat) dengan harga tiket Rp 25.000 per orang plus pass masuk pelabuhan Rp. 2000,- Dengan ferry ini,  maka pelabuhan Ulee Lheu Aceh dan pelabuhan Balohan di Sabang ditempuh selama dua jam.

Tiket kapal cepat
 Cara kedua, bisa menggunakan kapal cepat. Harga tiketnya lebih mahal, Rp 80.000 tapi waktu tempuhnya lebih cepat, hanya 45 menit.

Kapal cepat Express Bahari 2F
Yang perlu diperhatikan adalah, kapal ini berlayar hanya dua kali sehari untuk hari Senin - Kamis. Sedangkan Jumat, Sabtu,  Minggu ada tiga trip perjalanan. Artinya, jika kita ketinggalan trip terakhir, harus rela menginap di Pulau Sabang menunggu esok hari.

Melaju cepat menuju Pulau Sabang

Kapal ferry, kapal lambat
Karena pertimbangan efisiensi waktu, saya memilih kapal cepat yang berangkat jam 10.00. Kapal cepat Ekspress Bahari yang saya naiki segera menderum keras memecah gelombang. Dengan kabin yang bersih dan ruangan ber-AC, kapal tersebut cukup nyaman dinaiki. Walaupun berlayar dengan kecepatan tinggi, namun guncangannya tidak terlalu terasa. Saya sendiri lebih memilih berada di buritan atas daripada terkurung di kabin kapal. Tak terasa, 45 berlalu, dan kapal berlabuh di pelabuhan Balohan, Sabang.
Pelabuhan Balohan Sabang

Dermaga pelabuhan Balohan
Para pemilik rental motor dan mobil menawarkan jasanya
Turun dari pelabuhan, saya disambut dengan teriakan yang menawarkan rental mobil dan motor. Memang di pulau kecil ini, alternatif transportasi tidak banyak. Yang umum ada adalah menyewa motor atau mobil. Sewa motor Rp 100.000 dan mobil 350.000 per hari. Namun jika menggunakan driver, sewa motor jadi Rp 150.000 dan mobil Rp. 500.000. Saya sendiri lebih memilih sewa motor plus sopir yang merangkap jadi guide.
jalanan mulus di Pulau Sabang





Dan tanpa menunggu waktu lebih lama, kami pun melaju di aspal mulus jalanan Pulau Sabang.
Sesungguhnya, ada banyak destinasi wisata di Pulau Sabang. Ada Pantai Iboh yang terkenal dengan aktivitas snorkling dan diving. Resort mewah di pantai ini juga selalu penuh di akhir pekan. Ada pantai Gapang dengan butiran pasir putih dan air lautnya yang dangkal. Berenang di pantai Gapang seperti berendam di kolam raksasa yang jernih. Sementara Di balik kota Sabang, ada  benteng Jepang Sumur Tiga yang terletak di pinggir pantai.


Pantai Iboh
Tentu, tujuan favorit wisatawan ke Pulau Sabang adalah Titik Nol Kilometer. Tempat ini dipercaya sebagai titik terluar wilayah NKRI. Dengan mengunjungi tempat ini, orang percaya telah mencapai ujung wilayah Republik Indonesia.

Sebenarnya, klaim ini tidak sepenuhnya benar. Karena beberapa mil laut dari titik nol kilometer, terletak Pulau Rondo. Pulau inilah yang menjadi wilayah terdepan NKRI. Sayangnya, masyarakat awam dilarang masuk pulau itu dan dijaga oleh TNI untuk keperluan pertahanan kedaulatan wilayah terluar RI.

Meski jalan menuju Titik Nol Kilometer sangat bagus, namun berkendara disini tetap harus hati hati. Jalanan berkelok tajam, lalu secara tiba-tiba mendaki terjal, membuat perjalanan tidak bisa cepat. Di beberapa tempat, beberapa monyet malah berjalan santai di tengah jalan, menghalangi kendaraan yang lewat. 
Monyet berkeliaran di jalan
Menurut guide yang membonceng saya, yang harus diwaspadai justru adalah babi hutan. Tak jarang secara tiba-tiba muncul babi hutan dari semak pinggir jalan, berlari cepat menghantam pengendara yang lewat. Pernah suatu ketika, seorang pengendara dilarikan ke rumah sakit karena motor yang dikendarainya terjungkal diseruduk babi hutan. Tangan pengendara yang malang itu sampai patah.

Gardu Pandang danau Anaeuk Laot

Danau Aneuk Laot
Beberapa kilometer di luar kota Sabang, saya melewati danau Aneuk Laot. Danau yang menyuplai persediaan air bersih bagi penduduk kota Sabang ini menyajikan pemandangan yang sangat memanjakan mata. Sejauh mata memandang tersaji keelokan alam yang luar biasa. Di beberapa tempat malah dibangun gardu pandang yang khusus untuk menikmati keindahan danau yang bersih itu dari atas.

Lepas dari danau Aneuk Laot, sekali lagi mata dibuat takjub dengan keindahan Pantai Iboh. Pantai tenang di teluk Sabang itu menjadi favorit wisatawan dalam dan luar negeri, khususnya pecinta olahraga snorkling dan diving. Beberapa resort yang dibangun seperti rumah adat setempat menawarkan wisata keindahan atas dan bawah air.

Beberapa kilometer sebelum Titik Nol Kilometer, terdapat situs militer Satuan Radar (Satrad) 233 yang berada di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Masyarakat setempat lebih mengenal kompleks militer ini dengan sebutan Kompleks Walet. Kompleks ini sekaligus menjadi bangunan terakhir sebelum kita memasuki Titik Nol Kilometer.

Gerbang masuk Titik Nol Kilometer
Titik Nol kilometer adalah suatu wilayah yang ditandai dengan tugu peringatan yang menjulang tinggi. Tugu yang dibangun oleh TNI ini sekaligus sebagai penanda kita telah sampai di wilayah terluar NKRI. Di depan tugu, terdapat tulisan TITIK 0 KILOMETER,  yang biasanya menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto. Bagi yang kurang puas, biasanya akan mencoba berfoto di atas bebatuan terjal di balik pagar. Dengan berfoto di tempat ini, orang percaya mereka lebih jauh lagi 
keluar dari wilayah Indonesia daripada sekedar titik nol.






berdiri di pinggir karang


Di kantor pengelola monumen, biasanya disediakan sertifikat bagi pengunjung yang ditandatangani Walikota Sabang. Sertifikat yang bisa didapat dengan mengganti uang cetal 20 ribu tersebut biasanya menjadi souvenir favorit bagi pengunjung. Sayang, karena hari libur, saat itu kantor pengelola tutup. Beberapa warung sekitar yang biasanya "kulakan" dan menjual sertifikat itu pun mengaku kehabisan. Apalah daya,.... Kecewalah hati awak!

Demi mengejar ferry terakhir yang meninggalkan Pulau Sabang, saya tidak bisa berlama lama di tempat itu. Walau terasa berat, kami pun melaju meninggalkan Titik Nol, menuju kota Sabang.

Kota Sabang adalah kota kecil yang tertata rapi. Penduduknya tidak banyak, sehingga infrastruktur jalan yang dibangun lebar terasa seperti berlebih lebihan. Karena sepinya kendaraan, lampu lalu lintas sering diterobos pengendara, tanpa ada kecelakaan yang berarti. Kebetulan, tanggal 23 April kemarin baru saja dilaksanakan Sabang Marine Festival, yang menampilkan kapal-kapal pesiar (yacht) dari berbagai negara. Sehingga suasana meriah dan dominasi turis asing masih terasa saat ini.

Yatch Peserta Sabang Marine Festival
Kami menyempatkan diri sholat Dhuhur di masjid Agung Babussalam Sabang. Masjid yang besar dan indah itu terlihat cantik di tengah ketenangan kota Sabang. Bagi pecinta wisata kuliner, Pantai Paradiso di jalan Malahayati menawarkan aneka ragam kuliner dan hiburan. Pantai yang ramai menjelang sunset ini banyak menjadi jujugan pengunjung.

Masjid Agung Babussalam Sabang




Pukul 13.45, saya sampai kembali ke pantai Balohan. Masih ada waktu 15 menit untuk membeli tiket dan masuk ke ferry. Agar variatif, kali ini saya mencoba naik kapal lambat, dengan tarif 27 ribu. Tanpa saya duga, ratusan orang telah memadati setiap jengkal lokasi kapal. Lantai atas, dek, selasar, bahkan anak tangga pun dijejali dengan penumpang. Sementara, di dermaga masih mengantri ratusan motor dan mobil yang ingin menyeberang. Mungkin karena ini adalah penyeberangan terakhir pada hari itu, membuat orang tak punya pilihan lain selain memaksa harus terangkut.

Alhamdulillah, walau dengan sedikit terseok seok karena muatan yang penuh, kapal akhirnya berangkat. Berbeda dengan kapal ekspress Bahari yang melaju cepat, kapal ini hanya bergerak perlahan, menguji kesabaran para penumpangnya. 

Karena lelah dan panas, aku terkantuk kantuk dalam pelayaran 2 jam tersebut. Akhirnya, tepat pukul 16, kapal pun sandar di dermaga Ulee Lheu.

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu
Keluar dari Pelabuhan Ulee Lheu, saya menyempatkan diri sholat Ashar di masjid Baitu.rrahim. Masjid peninggalan Sultan Aceh pada abad ke 17 itu menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami pada tahun 2004. Ketika seluruh bangunan di Ulee Lheu rata dengan tanah, masjid Baiturrahim menjadi satu satunya bangunan yang tersisa dan selamat. Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar 20 persen saja, sehingga masyarakat Aceh sangat mengagumi masjid ini sebagai symbol kebesaran Allah


Friday, January 27, 2017

, , ,

Hejaz Railway, Saksi Bisu Keruntuhan Khilafah Bani Utsmaniyyah



Apa yang terlintas di benak kita ketika melihat film Indiana Jones and the Last Crusades? Pemandangan yang indah saat kereta uap melaju di tengah padang pasir di awal film? Atau eksotisme kuil Petra tempat menyimpan cawan suci di dalamnya?  Dua hal itulah yang melintas cepat dalam pikiran saya, saat mengunjungi situs Madain Saleh Station, salah satu stasiun kereta di jalur Hejaz Railway di Propinsi Madinah, Saudi Arabia.

Emplasemen Stasiun Madain Saleh yang tertata rapi

Wednesday, January 18, 2017

, , , ,

Madain Saleh, Sisa-sisa Peradaban Indah Yang Terkutuk

Tak banyak orang yang tahu, bahwa Arab Saudi memiliki banyak situs arkeologi peninggalan sejarah yang luar biasa. Situs-situs ini tersebar di berbagai pelosok negeri Jazirah Arab, hingga ke negeri-negeri sekitar di Timur Tengah. Salah satu situs arkeologi yang cukup dikenal adalah MadainSaleh, wilayah kering di tengah gurun pasir yang dikenal sebagai bekas wilayah kaum Tsamud, 800 SM.


Bagi jamaah Umroh atau Haji, mengunjungi Madain Saleh adalah tantangan tersendiri. Selain tempatnya yang jauh, sekitar 450 km dari Madinah atau 830 dari Mekkah, pengunjung juga harus punya ijin khusus untuk bisa masuk area terbatas itu. Ada pintu gerbang khusus yang dijaga oleh Askar Kerajaan Saudi, yang memeriksa setiap pengunjung yang mau masuk. Sesuai regulasi pemerintah Saudi, jamaah dengan visa umrah hanya berlaku di tiga kota; Jeddah, Mekkah, dan Madinah. Sehingga jika hanya mengandalkan paspor dengan visa umrah atau haji, bisa dipastikan akan disuruh balik atau ditolak masuk.

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...