Tuesday, November 6, 2012

,

Gajah Mada, Sadyakala Rajawangsa


Akhirnya aku berhasil mendapat buku terbaru buah tangan Langit Kresna Hariadi (LKH), Majapahit, Sadyakala Rajawangsa. Setelah sekian tahun absen dari penerbitan buku baru, buku ini seolah pengobat dahaga akan kerinduan akan karya fiksi sejarah. Bukan sekedar fiksi sejarah tentunya, karena kalau hanya fiksi sejarah, banyak buku-buku sejenis yang saat ini seolah membanjiri pasar. Yang membedakan disini tentu saja nama besar Langit Kresna Hariadi, yang menjadi jaminan kualitas buku-buku yang ditulisnya.

Dengan desain cover yang sederhana, kertas buram, font yang kecil, dan tebal 616 + viii halaman, sekilas buku ini tidak terlalu menarik. Hal ini berbeda dengan buku-buku terbitan sebelumnya yang terasa “gebyar”nya, baik itu terbitan PT Tiga Serangkai Solo atau pun terbitan LKH Production sendiri. Mungkin untuk menekan biaya produksi, atau mungkin karena LKH sekarang menggandeng PTBentang Pustaka sebagai penerbit, entahlah! 

Lalu apakah isinya nanti juga "tidak menarik" seperti halnya cover yang ditampilkan? Nanti dulu...

Sunday, August 5, 2012

,

Nikmatnya Buka Puasa di Pantai Brumbun


Mobil Panther yang kami tumpangi malam itu meraung-raung mendaki jalanan terjal, melintasi jalanan rusak dengan kemiringan yang ekstrim. 7 orang penumpangnya terguncang-guncang di dalamnya, hingga harus berpegangan erat pada kursi masing-masing. Adzan maghrib yang tinggal 30 menit lagi memaksa kami untuk tidak memperdulikan semua itu. Harapannya cuma satu, bisa sampai ke pantai Brumbun sebelum waktu buka puasa tiba. Sempat kulirik jam tanganku, waktu saat itu menunjukkan pk 17.05, hari Sabtu, 4 Agustus 2012. Berbarengan dengan hari ke 15 puasa Ramadhan 1433 H.

Keelokan pantai Brumbun dari atas bukit *

Infrastruktur jalan menuju pantai Brumbun memang rusak parah.  Di beberapa tempat malah batu-batu besar menonjol dengan lubang dalam di sisinya. Belum lagi medannya yang panas dominan dengan tanaman jagung dan ketela. Kata penduduk setempat, jalan disini dulunya lumayan bagus. Meski tidak diaspal hotmix, namun cukup baik untuk jalan kendaraan roda 4. Hanya saja, setelah ada gelombang reformasi belasan tahun silam, kondisi jalan menjadi rusak parah dan tak terpelihara.

Di tengah jalan, kami melihat sekelompok petani yang sedang memanen ketela pohon, dan menaikkannya ke atas truk. Pikir kami, enak juga ya kalau nanti malam bisa bakar ketela di pinggir pantai. Segera saja mobil kami hentikan dan menghampiri mereka. Maksud kami ingin sekedar membeli barang lima ribu rupiah. Namun ternyata mereka malah mempersilahkan kami untuk mengambil ketela semau kami, dan menolak uang yang kami sodorkan. Meski kami memaksa, mereka tetap menolaknya. Akhirnya kami membawa sekarung ketela pohon, sementara uang lima ribu itu diam-diam kami letakkan di kursi sopir truk.

Salah satu sudut muara di pantai Brumbun *

Wednesday, July 18, 2012

,

Histeria Kla Project di Tirtoyoso Kediri...


Lengkingan saksophone terdengar menjerit mendayu-dayu malam itu, menandai dimulainya konser Menjemput Impian with Kla Project  di lapangan Tirtoyoso Kediri. Segera setelah itu, lagu Terpuruk Ku Disini dinyanyikan oleh Katon Bagaskara, mengajak semua yang hadir untuk larut menyanyikannya. Lagu itu sekaligus sebagai lagu pembuka dari total 12 lagu dinyanyikan oleh Kla Project  malam itu.

*courtessy Humas PemkotKediri

Malam itu, Selasa 17 Juli 2012, pemerintah kota Kediri memang punya gawe, memperingati ulang tahun kota Kediri ke 1133. Salah satu rangkaian acara peringatan HUT tersebut  adalah menggelar konser Menjemput Impian bersama Kla Project. Sengaja acara itu mengambil tempat di lapangan Tirtoyoso Kediri, dengan pertimbangan tempatnya yang cukup luas dan tidak di pinggir jalan besar. Sebagaimana diketahui, Kla Project adalah grup band yang tenar di tahun 90-an. Sehingga sebagian besar penggemarnya sudah berusia diatas 30 tahun.
                                                                                        *courtessy Humas PemkotKediri

Monday, July 16, 2012

,

Kediri Bershalawat Bersama Haddad Alwi


Ada yang berbeda di stadion Brawijaya malam itu, Senin 17 Juli 2012. Lapangan yang menjadi homebase Persik Kediri itu berubah menjadi meriah dan dominan dengan warna putih. Di tengah lapangan rumput yang terpelihara rapi itu digelar karpet dan meja meja kecil. Lampu stadion juga dinyalakan sempurna, membuat suasana menjadi terang benderang.

Lautan manusia menyemut memenuhi tengah lapangan. Sebagian besar dari mereka memakai baju warna putih, sebagian lagi memakai seragam yang biasa dipakai waktu pengajian. Uniknya, mayoritas pengunjung didominasi oleh ibu-ibu, yang rata rata sudah berusia tidak muda lagi.

Ya, malam itu di Stadion Brawijaya ada acara Kediri Bersholawat, bersama Haddad Alwi. Acara itu digelar dalam rangka menyambut bulan suci Romadlon 1433 H sekaligus memperingati hari jadi kota Kediri yang ke 1133. Diawali dengan tampilan grup Marawis, Haddad Alwi malam itu tampil dengan gaya khasnya, menyeru kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Beberapa lagu yang ditampilkan merupakan lagu-lagu hits dari albumnya, antara lain Muhammad Nabiku, Selamat Datang Kekasih, dan sebagainya.


Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...