Tuesday, November 3, 2015

, ,

Berebut berkah di Grebeg Selarong 2015

Pagi itu kesibukan di rumah Pak Hisyam, Kepala Dukuh Iroyudan Desa Guwosari Bantul meningkat pesat. Beberapa orang laki-laki sibuk berdandan, memakai busana ala prajurit keraton Jogjakarta. Mereka saling membantu, agar bisa segera selesai di tengah terbatasnya waktu. Sementara di sudut halaman, sebuah gunungan berisi berbagai hasil bumi dan makanan telah siap untuk dibawa ke balai desa Guwosari. Gunungan dan tumpeng berbagai makanan tersebut disiapkan oleh ibu-ibu warga sekitar yang ikut bergotong royong memasak semalam suntuk di dapur.
Gunungan hasil bumi


Berdandan dulu biar rapi



Hari itu, Minggu 2 Nopember 2015 memang layak sebagai hari istimewa bagi masyarakat desa Guwosari Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Pasalnya, hari itu adalah puncak acara Grebeg Selarong yang rutin diadakan setiap tahun. Acara yang rutin diadakan sejak 2005 tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Guwosari dan Karang Taruna Dipo Ratna Muda.
Memakai kostum Prajurit Keraton
“Grebeg Selarong adalah peringatan pindahnya Pangeran Diponegoro ke Goa Selarong untuk melakukan perang gerilya. Untuk tahun ini, acara grebeg Selarong sekaligus dalam rangka Hari Ulang Tahun desa Guwosari yang ke 69”, terang Hisyam, Kepala Dukuh Iroyudan.
Mengusung gunungan sedekah hasil bumi
Persiapan berangkat
 


Jam 06.00 WIB halaman sekitar balai desa Guwosari sudah penuh dengan peserta kirab. Rencananya, arak arakan kirab akan dimulai dari balai desa Guwosari dan berakhir di Goa Selarong dengan menempuh jarak sejauh ± 3 km. Dari catatan panitia, ada 18 Bregodo (kontingen) yang akan ambil bagian dalam kirab ini. Mereka berasal dari 15 dukuh di lingkungan desa Guwosari, ditambah 3 Bregodo dari Partisipan. Masing-masing Bregodo diwajibkan menampilkan display/atraksi yang menarik, dengan tetap menjunjung asas budaya dan kearifan lokal setempat.
 
Kepala Desa Guwosari, H. Muh. Suharto memberikan sambutan
 Peserta kirab Grebeg Selarong pada 07.00 dilepas oleh H. Muh. Suharto, selaku Lurah Guwosari. Di sepanjang jalan, masyarakat setempat sudah berjejal jejal menunggu peserta kirab lewat. Umumnya mereka cukup terhibur dengan berbagai display yang ditampilkan oleh tiap Bregodo. Lokasi favorit untuk melihat display tiap bregodo adalah di pertigaan Sindon.
 
 
Yang menarik adalah aksi bagi bagi 2.000 ekor ikan dari Bregodo komunitas para pemancing. Ikan hias yang dikemas dalam plastik kecil tersebut dibagikan kepada para warga di sepanjang jalan area kirab. Tak ayal, aksi tersebut disambut meriah oleh masyarakat, utamanya anak anak kecil.
Dsiplay menjelang garis finish
 
 
 
 
Bregodo Watu Gedug
 
Sekitar pk 09.00, Bregodo pertama dari pamong desa Guwosari memasuki garis finish di areal parkir Goa Selarong. Di tempat itu, pengunjung disambut oleh sebuah blangkon raksasa yang diklaim oleh panitia sebagai blangkon terbesar di dunia. Blangkon tersebut berukuran panjang 7 meter, lebar 5,6 meter, dan keliling 17,4 meter. Blangkon raksasa tersebut menghabiskan kain hitam sebanyak 167 meter dan 40 lembar kain jarik, dengan total biaya sekitar Rp 5,8 juta.
Blangkon raksasa

Setelah semua Bregodo memasuki garis finish, maka seluruh gunungan dan tumpeng dikumpulkan di tengah lokasi. Setelah ditutup dengan doa, maka seluruh yang hadir segera berebut isi gunungan. Tradisi berebut isi gunungan dan tumpeng (masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah Rayahan) dipercaya bisa memberikan keberkahan dan melimpahnya rejeki bagi yang mengambilnya.

Rayahan.      sumber foto: istimewa
Terlepas dari kepercayaan tersebut, kesempatan rayahan ini memang moment yang paling ditunggu tunggu pengunjung. Sebab, dari 18 gunungan yang tersedia untuk disedekahkan, tidak semuanya berisi aneka sayur, buah, atau hasil bumi lainnya. Gunungan dari bregodo pemancing misalnya, berisi aneka ikan bakar yang siap dimakan. Bregodo yang lain juga ada yang menampilkan gunungan berisi belasan ayam panggang dan ingkung ayam. Yang tak kalah menarik adalah gunungan dari salah satu bregodo yang banyak dihiasi dengan uang 5 ribu dan 10 ribu rupiah. Tentu saja, hal ini menambah semangat dan daya tarik masyarakat untuk ikut melakukan rayahan.

0 comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...