Tuesday, April 19, 2016

, ,

Jelajah Sepeda bersama SEMAR dan KERR di Ongakan

Ceritanya pagi itu kami dari komunitas sepeda SEMAR berencana untuk gowes bareng dengan KERR (Kediri Rock Rider) ke Ongakan. Ongakan sendiri adalah suatu bukit di puncak gunung Kelud, yang bisa dicapai dari arah desa Besowo kecamatan Kepung Kediri. Belakangan ini, tempat ini cukup menarik perhatian sebagai destinasi wisata alam yang baru di Kediri. Kondisinya relatif masih alami dan belum banyak dijamah manusia.
  
Papan petunjuk arah ke Ongakan


Terlambat dari rencana semula, kami tiba di desa Besowo sekitar jam 08.00. Cukup siang, sehingga kami harus bergegas menurunkan sepeda dari pickup dan truk. Ternyata cukup banyak juga peserta yang ikut dalam event kali ini. Dari SEMAR ada sekitar 14 orang yang ikut, sedang KERR mengerahkan 24 orang anggotanya. Pun juga, banyak diantara kami yang belum saling mengenal. Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini, kami jadi saling mengenal dan bertambah saudara.
 
Lepas dari perkampungan, jalan langsung mendaki

Dari rute awal, kami sudah dikejutkan dengan tanjakan tajam di tengah desa. Karena tanpa persiapan atau pemanasan sebelumnya, banyak diantara kami yang berguguran, dan terpaksa menuntun sepeda. Padahal saat itu keringat pun belum lagi mengalir!

Rute selanjutnya tidak kalah menantang. Setelah melewati lapangan volley di pinggir desa, kontur jalanan didominasi jalan setapak yang terus menanjak. Kami juga harus berhati-hati karena kondisi jalan yang berlobang-lobang karena tergerus air. Namanya juga jalan setapak di gunung, jangan harap akan selandai jalan makadam, apalagi jalan aspal.

Pos Jaga cagar alam Besowo
Di Pos Jaga Cagar Alam Besowo, kami berhenti. Hampir semua tersengal sengal mengatur napas. Keringat mengucur deras, jantung berdetak keras, dan botol minum pun mulai habis diteguk. Rasanya kami telah menempuh jarak belasan kilometer. Padahal jika diukur dari pinggir jalan raya Besowo, mungkin baru 1 km yang telah kami tempuh.
 
Rimbunnya pepohonan
Satu persatu, kami melanjutkan perjalanan. Rombongan pun terpecah. Yang masih kuat segera melanjutkan mengayuh sepedanya, sedang yang nyaris patah disemangati oleh lainnya. Ditunggu sampai kuat kembali, kata pak Ketua Semar, mas D.
 
Pos kedua
Namun di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa pemandangan di jalur ini sungguh indah. Pohon-pohon tinggi menjulang, diselimuti kabut di lereng gunung Kelud. Di atas pohon, nampak seekor elang Jawa yang melayang berputar-putar, mencari mangsa di bawahnya. Aku sendiri nyaris melindas bangkai burung hantu, yang tergeletak mati di pinggir jalan.
 
Di bawah pepohonan
Menunggu teman
Setelah menempuh separo perjalanan, kami sampai di pinggir hutan pinus. Tidak tahu apa yang terjadi, tetapi pohon-pohon pinus tersebut seperti meranggas bekas terbakar. Hitam kelam, tanpa menyisakan dedaunan sedikitpun. Sehingga yang nampak seperti tonggak kayu yang menjulang ke angkasa.



Meski begitu, yang tersaji malah seperti pemandangan yang eksotik. Kami berdiri di bawah pohon-pohon pinus yang tegak lurus keatas. Nuansanya seperti berada di dunia lain. Tenang, dingin, namun penuh misteri.
 
Jalan setapak di tengah hutan lebat
Lepas dari kumpulan pepohonan pinus, kami memasuki hutan lebat. Kontur tanah semakin menanjak, dengan lobang-lobang bekas gerusan air yang semakin dalam. Di hutan ini pepohonan berjenis heterogen. Namun umumnya berukuran sangat besar dengan ketinggian yang ekstrim. Belum lagi semak belukar yang cukup rimbun di kiri kanan jalan. Rasanya seperti memasuki dunia pra sejarah, dengan binatang raksasa semacam dinosaurus.
 
Menembus semak belukar
Kondisi jalan makin lama semakin tidak bersahabat. Tanjakan semakin tajam, kondisi jalan yang penuh lubang, dan semak belukar yang menjorok memotong jalan, membuat beberapa teman berjatuhan. Ada yang terperosok di lubang pinggir jalan, terpeleset oleh pasir dan bebatuan, atau terpaksa berhenti dan terjatuh, karena teman di depan juga berhenti mendadak.

Yang namanya jatuh itu,.sakitnya gak seberapa. Tapi malunya itu !

Jurang aliran lahar gunung Kelud

Bukit Kura Kura
 Keluar dari hutan, kami akhirnya sampai di pinggir jurang aliran lahar. Pemandangan sangat indah, dan terkesan eksotik. Jurang sedalam ratusan meter menganga, membuat kami bergidik ngeri membayangkan kedalamannya. Jauh di seberang jurang, terletak bukit kura-kura. Dinamakan bukit kura-kura, karena punggung bukit berbentuk mirip kura-kura. Tempat ini biasanya dipakai foto-foto atau selfi oleh para pengunjung.

Sekitar 500 meter dari jalan seberang bukit kura-kura, kami sampai di Ongakan. Bravoo.....! Pak Yanuar yang menunggangi United Avalanche akhirnya bisa membuktikan sebagai yang pertama sampai di Ongakan. Sehingga ketika yang lain satu persatu memasuki pinggir jurang Ongakan, pak Yanuar bisa senyum-senyum sambil menikmati teh hangat.
Bravoo ! Yang pertama sampai finish
Dari sini pemandangan luar biasa tersaji di depan kami. Dinamakan Ongakan, karena untuk melihat jurang di sebelah, kami harus mendongak (ongak) saking dalamnya. Nun di kejauhan, terlihat air terjun yang mengalir tenang. Mungkin karena debit air yang kecil, maka pesona air terjunnya tidak terlalu kelihatan.
 
Suasana Ongakan yang cukup ramai
 Kondisi Ongakan di hari libur itu cukup ramai. Di samping kami yang mendaki menggunakan sepeda, banyak juga kelompok trail yang mempunyai tujuan yang sama dengan kami. Demikian juga dengan pengunjung biasa, yang datang berombongan atau sekedar berboncengan dua orang, cukup membuat tanah sempit di Ongakan terasa padat.


Menikmati minuman hangat di warung
 Untuk urusan makanan, tersedia cukup banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Harganya juga tidak mahal, nyaris sama dengan warung di desa-desa pada umumnya. Namun yang terpenting, menikmati secangkir kopi atau teh panas di tengah kabut Ongakan memang tak bisa dinilai dengan uang berapapun.

Di tengah-tengah kesenangan menikmati indahnya bukit Ongakan, kami menerima kabar bahwa ban sepeda pak Rofik teman kami bocor. Wah……! Di tengah-tengah hutan seperti ini, ban bocor memang terdengar seperti vonis hukuman berat.
 
Keluarga besar Semar
 Menjelang tengah hari, kami bersiap siap turun. Kondisi alam yang semakin gelap berkabut, menandakan hujan akan segera turun. Aku tidak bisa membayangkan turun dari Ongakan dalam kondisi hujan deras. Betapa tanah gembur dan lubang dalam di sepanjang jalan tadi akan tertutup air, dan berpotensi membahayakan bagi siapapun.

SEMAR dan KERR
 Pada saat berangkat tadi, kami dari SEMAR relatif menguasai medan. Dengan sepeda berjenis MTB bergenre leisure, seperti polygon Premier, Xtrada, United Avalanche, atau maksimal bergenre  XC Sport seperti Thrill Ricochet, rasanya mendaki jadi lebih gampang ditempuh. Namun saat turun seperti ini, teman-teman KERR yang mayoritas memakai sepeda fullsus jadi berjaya. Sepeda-sepeda full suspensi bergenre FR dan AM seperti Polygon Collosus, Adrenaline agent, Specialized, atau Mosso, dengan mudah melibas turunan terjal dengan berbagai rintangan.

Terbiasa dengan sepeda hybrid polygon Heist 4, membuat saya agak kagok menaiki Thrill Ricochet 1.0. Namun di medan offroad seperti ini, sepeda fullsus dari Thrill tersebut mampu menunjukkan tajinya, terbang melibas ranting pohon dan bebatuan. Beberapa kali Thrill ini harus melompati pematang, dan mendarat dengan keras di tanah berbatu. Beruntung, semua itu bisa diredam oleh fork Rockshock dan X Fushion di rear shocknya. Rem hidrolik di kedua roda juga bekerja dengan baik, hanya dengan jentikan ringan di ujung jari.

Tidak sampai 20 menit, aku sudah tiba di start awal, di pinggir jalan desa Besowo. Jika mengingat kami harus bersusah payah selama hampir 2 jam untuk bisa sampai ke puncak Besowo, rasanya 20 menit tadi seperti sebuah ironi.

Tidak terlalu lama, sebagian besar anggota telah sampai di bawah dengan selamat. Semua larut dalam suka cita, merasakan sensasi offroad di jalan downhill. Adrenalin yang terpacu, membuat kami merasakan sensasi luar biasa. Jauh melebihi yang biasa kami rasakan jika mengayuh pedal di jalan datar.
 
Pak Rofik, yang ban sepedanya bocor sampai tiga kali
Belakangan kami sadar, bahwa pak Rofik dan mas Dion masih tertinggal di belakang. Dari beberapa rekan yang datang belakangan, kami dapat kabar bahwa ban sepeda pak Rofik bocor lagi. Dalam kondisi seperti itu, menambal ban sudah tidak mungkin lagi, sehingga harus diganti. Akhirnya salah seorang rekan, mas Zainul berinisiatif menyusul dengan menggunakan ojek motor.
 
Maskot SEMAR

Alhamdulillah, jam 13.00 semua anggota telah kembali. Sementara yang lain beristirahat dan menikmati makan siang, yang lain mulai menaikkan sepeda ke atas truk dan pickup. Dan diiringi hujan deras, pelan-pelan kami meninggalkan desa Besowo, kembali ke kota Kediri

5 comments:

  1. Reportase P Tri pancen 'Istiminthuuulll ! ...'

    ReplyDelete
  2. "...tak bisa dinilai dengan uang berapapun."

    ReplyDelete
  3. review yang bagus,...jadi pengen kesono lagi... :-)

    ReplyDelete
  4. gambar terakhir kok muncul dewe to? Opo sing mbahurekso Ongakan wong iku???

    ReplyDelete
  5. Thx utk infonya.. mampir yuk ke http://elementmtb.com/ragam-balap-sepeda-yang-mendunia/

    ReplyDelete

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...