Thursday, May 12, 2016

, , ,

Romantisme Kota Tua Melaka

Melaka adalah kota yang romantis.....
Dan romantisme itu berawal dari Red Square.


Berkunjung ke Melaka adalah berkunjung ke Red Square. Pusat kota ini ibarat alun-alun, sehingga semua terkonsentrasi disini. Pemberhentian bas persiaran (bis pariwisata) untuk turis disini, bahkan tempat berkumpul bagi rombongan wisata juga tidak jauh dari sini. Tidak heran, tempat ini menjadi tempat paling ramai dari seluruh destinasi wisata di Melaka. 

Red Square. Pusat kota tua Melaka
Tempat ini juga dikenal sebagai Dutch Square. Entah kenapa disebut demikian. Apakah hanya karena ada kincir angina kecil khas negeri itu? Ataukah karena dulu yang membangun tempat ini adalah Belanda, setelah mengalahkan Portugis dengan bantuan Sultan Johor di tahun 1641? Entahlah.


Dutch Square
Tapi justru dari Dutch Square inilah, keindahan Melaka bermula
Kota tua yang diisytiharkan menjadi Bandaraya Bersejarah pada 15 April 1989, dan sebagai World Heritage City pada 7 Juli 2008 oleh UNESCO.
 
Chris Church, gereja Katolik tertua di Malaysia
Tanpa perlu jauh-jauh melangkah, terlihat jelas beberapa bangunan tua yang berwarna merah
Di ujung sana, terlihat jelas sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Dari bentuknya terlihat jelas, bahwa itu adalah sebuah gereja. Christ Church, demikian nama gereja tersebut sebagaimana tertera di dinding bangunan. Gereja ini dibangun tahun 1753 oleh pemerintah Belanda dan menghabiskan waktu 12 tahun hingga selesai. Bentuknya yang unik dibangun dengan balok kayu yang panjang dan tanpa sambungan. Sedangkan bangku untuk para jemaat adalah asli handmade dan telah berusia ratusan tahun.

Pada awalnya, gereja ini lebih dikenal sebagai Dutch Reformed Church (Gereformeerde Kerk). Tahun 1795, Inggris mengambil alih gereja ini dan mengubahnya menjadi Anglican Church. Sampai sekarang, gereja ini masih dipergunakan dan dikenal sebagai gereja Katolik tertua di Malaysia. Bahasa yang dipergunakan untuk kebaktian adalah bahasa Melayu dan bahasa Inggris.

Tak kalah megahnya, dibelakang gereja Crist Church, berdiri gereja St Francis Xavier’s. Gereja yang terletak di jalan Laksmana ini dibangun tahun 1856 di atas situs gereja kuno Portugis. Berbeda dengan mayoritas bangunan lainnya di kompleks kota tua Melaka yang bercat merah, gereja ini dicat putih kelabu.
 
Gereja St Francis Xavier
Dari titik nol kilometer Melaka, langkah kaki membawaku menaiki tangga gedung Stadthuys. Gedung tua ini dibangun tahun 1650, yang merupakan gedung tertua yang dibangun Belanda di Asia Tenggara. Bangunan berwarna merah itu terlihat kokoh dan berwibawa, tipikal bangunan kuno masa lalu. Saat ini, gedung tersebut difungsikan sebagai Museum Sejarah Melaka. Sayangnya hari sudah sore, sehingga pengunjung tak lagi diperbolehkan masuk. We’re closed !

Namun demikian, kami masih sempat melihat sebuah truk Bomba (pemadam kebakaran) kuno dipajang di samping gedung. Kendaraan tua nan antik tersebut dulunya pernah dipakai sebagai kendaraan operasional pasukan bomba kesultanan Negeri Melaka.
 
Truk Bomba Perbandaran Melaka
Hanya beberapa meter di belakang gedung Stadthuys, terdapat Galeri Laksamana Cheng Ho. Museum ini berisi aneka informasi terkait Laksamana Cheng Ho (Zheng Ho) yang dilahirkan pada tahun 1371 di Hodai, sebuah kampung di daerah Bao San di Yunnan. Galeri ini memaparkan kisah pelayaran Cheng Ho ke lautan selatan dan keberhasilannya menjalin persahabatan antara kerajaan-kerajaan di Asia dan Afrika. Galeri ini dibuka pada bulan Februari 2003 bersamaan dengan pembukaan Museum Sejarah dan Ethnografi dan Museum Belia Malaysia.
 
Galery Laksamana Cheng Ho
Di puncak bukit St Paul yang strategis, kami menjumpai sebuah gereja yang sudah tidak berfungsi. Gereja kuno tersebut, atau lebih tepat disebut reruntuhan gereja, didirikan di tempat dimana jenazah Fransiskus Xaverius, seorang missionaris terkemuka di Asia Tenggara saat itu, dimakamkan selama 8 bulan, setelah kematiannya di laut (dari tanggal 22 Maret - 11 Desember 1553). Karena itu tidak heran jika di depan gereja terdapat patung Fransiscus Xaverius.
 
St Paul Hills, tempat situs gereja St Paul berada
Gereja St Paul
Dalam kondisi setengah rusak (tanpa atap dan dinding terkelupas), Gereja St Paul malah memiliki daya tarik tersendiri. Bangunan kuno tersebut dinilai eksotik, dan menarik dari sisi fotografi. Karena itu tidak heran jika banyak yang berkunjung dan melihat-lihat sampai ke dalam. Selfie pun menjadi ritual yang wajib dilakukan di sini. Di dalam kapel malah sepasang calon pengatin sedang mempersiapkan sesi foto pre wedding.


Pre Wedding

Turun dari tangga St Paul, kita langsung sampai di Porta de Santiago A’Famosa, sebuah bangunan tua di pinggir jalan Parameswara. Gedung ini dulunya dibangun oleh Penguasa Portugis, Alfonso D’Albuquerque pada tahun 1511. Namun bangunan tua ini hancur oleh invasi Belanda pada tahun 1641, dan sekarang hanya menyisakan gerbang depan yang dijaga oleh dua buah meriam kuno saja.

Memang tidak semua orang menyukai sejarah. Oleh karena itu, pemerintah Kesultanan Negeri Melaka berusaha melindungi beberapa situs dan artefak tersisa sebaik mungkin. Beberapa situs yang telah hancur dipagar besi dan diberi tanda sebagai cagar budaya. Cara ini untuk menyelamatkan artefak berharga tersebut dari kerusakan akibat tangan-tangan jahil.
 
Situs peninggalan tembok kota Malaka
Namun demikian, Kesultanan Negeri Melaka juga berusaha mengemas peninggalan masa lalu tersebut seapik mungkin. Sehingga bagi yang tidak terlalu menyukai sejarah pun akan tertarik, walaupun hanya sekedar melihat. Dan kemasan yang paling umum dipakai adalah membuat Museum.

Untuk urusan museum, Melaka adalah biangnya. Dari brosur pariwisata yang dikeluarkan oleh Perbadanan Muzium Melaka, tercatat ada lebih dari 25 museum yang bertebaran di seluruh penjuru kota Melaka. Mulai dari Muzeum Samudra, Muzeum kapal selam, muzeum Chetti, muzeum Pendidikan, muzeum Belia Melaka, Muzium Islam, Muzeum Al Qur’an, Muzeum Layang-layang, dan lain-lain. Bahkan juga ada muzeum UMNO dan muzeum demokrasi. Muzeum-muzeum tersebut ada yang menarik tiket masuk, ada juga yang free.
Musium Arsitektur Malaysia
Salah satu museum yang cukup menarik untuk dikunjungi dan relatif dekat dengan Stadthuys adalah museum Samudera. Museum yang terletak di pinggir sungai Melaka ini dikenal juga dengan museum Maritim atau Flor de la Mar. Bentuknya unik, replika dari kapal Portugis yang karam di pantai Malaka. Museum ini menyajikan sejarah maritim Melaka, di era keemasan Kesultanan Melaka. Tiket masuk RM5, namun sayangnya hanya buka sampai jam 18.00.
 
Muzeum Maritim

Di tengah nuansa kuno dan peninggalan purbakala, rasanya agak dejavu ketika melihat ada wahana modern di tengah kota Melaka, yaitu Taming Sari Tower. Taming Sari Tower adalah wahana untuk melihat kota Melaka dari ketinggian 80 meter, dimana wahana akan berputar secara perlahan sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan sampai 360 derajad. Tentu saja, wahana ini tidak disarankan bagi yang takut ketinggian. Juga, tidak disarankan naik wahana ini bagi yang berdompet tipis, mengingat harga tiket yang lumayan mahal RM20 untuk atraksi selama 15 menit saja.
 
Menara Taming Sari
Kota Melaka dari atas Menara Taming Sari



Saat malam tiba, rasanya keindahan Melaka semakin mempesona. Di sudut-sudut jalan lampu lampu memancar dengan apik, sehingga suasana semakin romantis. Namun barangkali, yang paling terlihat indah adalah Melaka River, sungai yang membelah kota Melaka. Airnya yang jernih mengalir tenang, memantulkan lampu-lampu yang dipasang di pinggir sungai. Di kedua sisi sungai, dibangun pedestrian yang bersih dan ditanami bunga-bunga, sehingga nyaman untuk digunakan pejalan kaki. Tidak banyak yang tahu, bahwa dulu sungai Melaka dikenal sebagai salah satu sungai yang paling tercemar.
 
Kincir air sungai Melaka yang sudah tidak berfungsi


Panorama sungai Melaka di malam hari

Bagi yang ingin menikmati sungai, bisa naik perahu menyusuri sungai. Dengan tiket seharga RM15, pengujung akan dimanjakan dengan atraksi menyusuri sungai sejauh 6 km selama 45 menit. Dalam perjalanan tersebut, penumpang akan melihat berbagai kehidupan masyarakat Melaka di pinggir sungai, hotel, cafe, dan pasar rakyat.





Menikmati river cruiser

Yang menarik, sebelum jembatan Hang Tuah di pelataran Wana River Hotel, penumpang river boat akan disuguhi sajian air mancur menari. Dengan diiringi musik dari Kitaro, air mancur warna warni tersebut akan meliuk liuk mengikuti irama lagu. Kadang memancar pelan, syahdu selaras dengan alunan violin. Namun tiba-tiba menyembur kuat keatas, mengikuti dentuman tamborin dan hentakan bass. Indah sekali!


Air mancur menari

Bicara malam di Melaka, rasanya tidak komplet jika tidak ke Jonker Street. Jonker Street sendiri adalah sebutan lain dari jalan Hang Jebat. Jika siang hari, jalan tersebut adalah kawasan Pecinan yang sibuk. Berbagai bangunan tua khas Tionghoa berdiri disini. Banyak kelenteng, rumah abu, dan makam keramat disini. Yang cukup terkenal adalah kelenteng Chen Hong Teng, yang dibangun pada tahun 1600an oleh Kapitan China Tay Khi Ki alias Tay Hong Yong.

Klenteng Cheng Hoong Teng

Awal jalan Jonker Walk
Jalan Hang Jebat / Jonker Walk di siang hari
Pada malam hari, Jonker Street menjelma menjadi pasar malam yang sibuk. Berbagai makanan, kerajinan tangan, asesoris HP, atau mainan anak-anak dijajakan disini. Jonker Street sendiri lebih dikenal di seluruh dunia sebagai pusat kolektor barang antik. Bahkan beberapa menyebut sebagai tempat terbaik untuk berburu dan menawar barang antik di seluruh dunia.






Suasana pasar malam di Jonker Walk

Selain makanan dan berbagai pernak pernik, pada akhir pekan kadang ada live music. Tentu saja musik yang disajikan adalah musik Mandarin yang tidak dipahami oleh umumnya turis Indonesia. Meski demikian, kadang ada juga beberapa lagu yang cukup familiar, seperti Tian Mi Mi dan lagu fenomenal Yue Liang Dai Biao Wo De Xin (The Moon Represent My Heart) dari Teresa Teng.
 
Penampilan musik jalanan di Taman Jonker Walk Heritage World

solo performance, di ujung jalan Jonker Walk
Meski banyak makanan dijajakan disini, namun tentu tidak disarankan bagi yang muslim untuk membeli makanan disini. Mengingat populasi masyarakat Tionghoa non muslim cukup besar, dan secara kebetulan banyak berjualan makanan. Makanan halal yang mungkin bisa direkomendasikan adalah di Medan Selera (food court) di sebelah museum maritim. Disana tersedia makanan halal Malaysia, lengkap dengan nasinya.

4 comments:

  1. Gustii, ini tempat yang paling ingin saya kunjungi!!
    Keren banget pak!
    Saatnya upgrade ke dotcom nih blognya. :D

    ReplyDelete
  2. Re-honeymoon aja lagi disini Tut. Tempat yg pas untuk pasangan muda sepertimu

    ReplyDelete

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...