Monday, September 5, 2016

, ,

Bromo Enduro Challenge, Menikmati Bromo Dengan Cara Yang Berbeda


Setelah sekian lama mengimpikan untuk bersepeda di lereng gunung Bromo, akhirnya baru kali ini kami mendapat kesempatan tersebut. Dan kemarin, Minggu 4/9/2016, kami dari komunitas KERR (Kediri Rock Rider) dan SEMAR (Sepeda, Makan, Rekreasi), berkesempatan untuk menjajal track legendaris di gunung Bromo melalui jalur Jemplang. Tercatat ada 12 anggota KERR dan 3 anggota SEMAR ikut berpartisipasi. Rencananya, kami akan loading dulu dari Poncokusumo, masuk pos Coban Trisula, lalu turun di Pos Jemplang.





Sekitar pk 08.00 kami mengawali start dari desa Poncokusumo. Sepeda kami loading di pickup, dan kami beramai ramai naik pickup yang satunya. Suasana cukup menyenangkan. Hawa sejuk di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBS) cukup menggigit. Di beberapa tempat, kami harus mepet ke pinggir tebing jalan, ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan yang sempit, berkelok kelok, dan disaput kabut, membuat perjalanan ini menjadi menyeramkan.

Di beberapa kesempatan, kami harus mengalah dari hardtop dan mobil jeep 4WD yang merajai wilayah tersebut. Karena sempitnya jalan, beberapa kali hampir terjadi senggolan antar kendaraan. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, maka seat post dan sadel sepeda kami lepas.




Pos Jemplang
Tiba di Jemplang, kami terpesona oleh keindahan kawah pasir gunung Bromo di depan kami. Meski berselimut kabut, namun samar-samar keindahan itu tetap terlihat. Beberapa dari kami sibuk berselfie ria, sementara yang lain menurunkan sepeda dari pickup.

Kabut tebal menyambut para bikers

Semangat !
Mas Hendra, sang Marshall
Setelah berdoa dan briefing sejenak oleh mas Hendra selaku marshal, kami segera berbelok ke kiri dan mulai menyusuri jalan setapak menembus hutan. Jalan itu kecil, berbatu batu, dan tak jarang tertutup oleh semak belukar atau pohon tumbang. Bagi yang tak terbiasa dengan jalur off road atau mengendarai hardtail, track ini cukup menyulitkan.


Belum jauh kami mengayuh pedal, cobaan mulai datang. Rantai sepeda milik salah seorang teman  kami putus. Seluruh rombongan kemudian berhenti, dan fokus pada perbaikan rantai yang putus tersebut. Dalam kondisi normal, mengalami putus rantai di tengah hutan seperti itu tentu musibah besar. Bengkel jauh, toko spare part terdekat pun bisa berjam jam perjalanan. Untungnya salah seorang teman kami, Mamet, membawa tool yang komplit. Dengan cekatan dia memotong rantai yang putus, dan menyambungnya kembali.

Pemandangan gunung Bromo di kejauhan

Setelah semua beres, kami  kembali menuruni gunung. Di sebelah kanan kami, nun jauh dibawah sana, terlihat hamparan padang pasir gunung Bromo. Samar-samar di balik pekatnya kabut, terlihat kepulan asap dari kawah gunung Bromo, berlindung di sebelah tegapnya gunung Batok. Sayangnya, kami tidak bisa leluasa menikmati indahnya alam, karena harus konsentrasi penuh pada kondisi jalan di depan. Lengah sedikit, bisa jatuh dan terguling di jurang. Tidak jarang, kami terpaksa harus turun dan menuntun sepeda.





Untuk kelas pemula seperti saya, menuruni medan terjal dan berbatu seperti itu tentu bukan hal yang mudah. Terlebih jalan yang kami tempuh kadang tertutup semak belukar, terhalang pohon tumbang, atau harus melompati batu-batu besar. Thrill Ricochet 1.0 yang aku naiki pun harus bekerja keras melewati semua rintangan.

Di sebuah padang savana, kami berhenti sejenak. Kondisi medan yang sulit membuat rombongan menjadi terpencar dan berjauhan satu sama lain. Untungnya, HT yang kami bawa cukup membantu kami untuk tetap saling terhubung. Sambil beristirahat, kami melepas dahaga dan membuka  bekal kami masing masing. Dan memang benar apa yang dikatakan pak Yanuar, dalam kondisi seperti ini, sebaik baik bekal adalah IMAN dan TAKWA.




Menikmati keindahan gunung Bromo

Setelah beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalan tidak terlalu menurun, namun kesulitan lebih besar kembali menghadang. Debu ! Ya, debu-debu halus dari letusan gunung Bromo membuat jalanan menjadi berat dan roda mudah selip. Debu-debu itu juga yang membuat jalanan menjadi gelap dan menyesakkan napas. Di beberapa tempat , tebu itu sedemikian tebalnya sehingga roda sepeda nyaris terperosok di dalamnya.




Di tengah tengah trek yang berbelok dan cukup curam, kami berhenti. Dengan dipandu Marshal, satu per satu kami memacu pedal menuruni lereng curam tersebut. Dan satu per satu, beberapa orang selamat sampai di bawah. Ketika tiba giliranku, rasa was was mulai menghantui. Nanti bisa sampai di bawah gak ya? Dengan peralatan safety yang seadanya dan tanpa body protector yang layak, rasanya turunan ini kok jadi menakutkan.



Dengan dada deg degan, saya sampai juga di bawah, meski beberapa kali roda depan terpeleset di tumpukan debu. Namun baru mau mengambil napas lega, di terdengar teriakan di HT ,stop! Stop..! Ada accident! Pak Yan Jatuh!

Benar saja, tampak kemudian pak Yan berjalan dalam kondisi yang acak acakan dan penuh debu. Kami yang khawatir segera memeriksa kondisi pak Yan, dan memastikan tidak ada luka yang serius. Ternyata ketebalan debu yang membuat pak Yan jatuh malah menyelamatkannya dari luka yang serius akibat benturan.




Untuk selanjutnya, kami menjadi lebih berhati hati. Jalanan makin menyempit dan menurun, membuat kami harus ekstra waspada. Belum lagi kami harus berbagi jalan dengan beberapa komunitas trail yang melalui jalan yang sama. Sering kami memilih untuk menuntun sepeda demi keselamatan bersama.




 Beberapa kilometer menjelang pedesaan Ngadirejo, kami berbelok menyusuri jalan setapak. Terbebas dari kawanan trail membuat kami bernapas lega. Namun ternyata jalan yang kami lalui lebih menantang. Menyusuri jalan setapak di kebun bawang yang curam, membuat beberapa orang terpacu untuk turun dengan kecepatan tinggi.



Dengan percaya diri, pak Rois mendahului yang lain memacu sepeda menuruni bukit. Tanpa disadarinya, ada selokan kecil di depan yang memotong jalannya. Dan tiba-tiba..brakkk ! Roda depan sepedanya terperosok ke parit, membuat pak Rois terpelanting ke depan. Belum cukup, sedetik kemudian sepeda specialized big hit miliknya jatuh dengan keras menimpa dirinya. Seketika, pak Rois pun terkapar di pinggir ladang.


Rombongan seketika berhenti. Semua bergegas datang menolong pak Rois. Sebagian anggota yang masih di atas hanya bisa melihat, sebelum memutuskan untuk turun di jalan yang sama. Alhamdulillah, body safety yang komplit telah menolong pak Rois dari cedera yang serius. Dia hanya mengalami lecet lecet di tangan dan kaki.
 
Berunding sejenak, sebelum menuruni bukit
Beberapa kali accident membuat kami lebih berhati hati. Pemegang HT wajib berada di depan dan belakang, untuk memastikan seluruh anggota dalam kondisi baik. Jika tidak memungkinkan, maka lebih baik turun dan menuntun sepeda, daripada memaksakan diri untuk turun dengan bersepeda.



Semakin siang, kondisi jalan semakin tidak bersahabat. Mendaki bukit, menuruni tebing, semua harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, maka harus siap dengan resiko terjatuh ke jurang di kanan kirinya.


Meski begitu, accident kembali terjadi. Kali ini pak Yan kembali kebagian apes, harus mencium beton makadam yang kasar saat terlempar dari sepeda yang dinaikinya. Peristiwa itu terjadi di trek lebar saat memasuki perkampungan. Karena jatuh di jalan kasar, maka kali ini luka luka yang diderita pak Yan agak serius. Tangan dan kakinya harus dibalut perban, sementara kepalanya yang terlindung helm juga terbentur dengan keras.





Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke TW. Untuk menghemat waktu dan tenaga, sepeda kami loading dengan pickup menyusuri Tanjakan Setan, lalu tembus ke Ngadirejo hingga desa Tutur.

Untuk etape selanjutnya, kami mencoba trek TW Bike Park. TW Bike Park adalah sebuah arena alam yang didesain sebagai track untuk bersepeda down hill. Tingkat kesulitannya juga bervariasi, mulai dari yang fun sampai DH tingkat berat. Dengan lokasi di tengah hutan, maka trek ini sangat nyaman dicoba. Biker tinggal memilih lokasi sesuai dengan sepeda yang dinaikinya, apakah itu cross country (XC), Dirtjump (DJ), All Mountain (AM), atau bahkan level Down Hill.
 
Hutan Pinus di TW Bike Park
Beberapa orang dari kami menjadi tertantang untuk mencoba beberapa obstacle. Mereka yang terbiasa bermain launcher makin bersemangat menggenjot sepedanya. Sedangkan yang lain, hanya memilih aman dan lewat di sampingnya saja. Safety first, kata pak Yan.




Meskipun dipandu marshal, namun karena mayoritas dari kami baru sekali ini menjajal trek TW, tak urung banyak dari kami yang terjatuh. Tak terhitung lagi berapa orang yang jatuh. Bahkan menjelang finish di warung Renes, persediaan kapas, perban, dan obat-obatan kami telah habis. Praktis, jalur sepanjang 9 km di tengah hutan daerah Tutur dan Welang itu benar benar menguji fisik dan nyali kami.

Membantu anggota klub sepeda lain yang mengalami accident

Track di TW Bike Park

Terjatuh lagi....


Pukul 16.30, kami memasuki garis finish di desa Welang. Dalam kondisi capek dan babak belur, kami mempersiapkan diri untuk pulang ke Kediri. Sepeda segera diloading ke pickup, mandi, dan mengisi perut di warung Renes.
garis finish


5 comments:

  1. Keren . Dian (KERR)

    ReplyDelete
  2. Pak Kaji pancen josss !!
    Buat semuanya aja ... Jangan lupa bejal yg utama tadi yaa ... wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. Bekal utama: IMAN & TAQWA ...wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  4. Bekal utama: IMAN & TAQWA ...wkwkwkwkwk

    ReplyDelete

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...