Wednesday, July 9, 2014

Pilpres, Akhir Penderitaan Panjang Masa Kampanye

Hari ini, Rabu 9 Juli 2014, adalah moment bersejarah bagi bangsa Indonesia. Dimana untuk ketiga kalinya bangsa Indonesia memberikan suaranya untuk memilih presiden RI. Ada dua kandidat yang bertarung pada Pemilu kali ini. Yang pertama adalah pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa, dan yang kedua pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Bagi banyak orang seperti saya, pemilu hari ini adalah akhir dari penderitaan panjang masa kampanye. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di kalangan grass root terjadi gesekan yang luar biasa tajam. Saling caci, saling fitnah, saling unfriend di FB, leave group, debat berkepanjangan, dan lain-lain. Semua berlangsung secara kasar dan tidak mengenal adab. Ajang pertempuran tersebut terjadi di semua media dan sarana. Di twitter, di facebook, di whatsapp, obrolan di kantin kantor, dimana mana! Bahkan televisi pun sampai harus ditegur berkali-kali oleh KPI, karena keberpihakan yang amat menyolok pada salah satu kandidat. Metro TV yang mendukung Jokowi harus berhadap hadapan dengan TVOne dan MNC Grup (http://nasional.kompas.com/read/2014/07/04/21242261/KPI.Minta.Kemenkominfo.Evaluasi.Kelayakan.Izin.Siar.TV.One.dan.Metro.TV.)


Sedihnya, karena Pilpres kali ini hanya diikuti oleh dua pasang kandidat, maka kelemahan satu pihak bisa dipandang sebagai kelebihan pihak lain. Demikian juga serangan kepada pihak satu bisa dianggap serangan dari pihak yang lain. Kalau tidak A, berarti ya B. Begitu juga jika pelakunya bukan B, pasti didalangi oleh A. Sesederhana itu kesimpulannya.

Meski secara pribadi saya mendukung salah satu pihak, namun dukungan tersebut tidak serta merta “sampai titik darah penghabisan”. Ibarat kata, kalau saya mendukung Jokowi dan kemudian Jokowi menang, apakah kemudian otomatis gaji saya naik? Atau jika Prabowo yang menang apakah saya akan mutung dan mendirikan negara sendiri? Tentu tidak. Semua akan berjalan kembali seperti biasanya.

Siapapun yang menang, saya masih harus mencari nafkah sendiri. Saya juga harus mengurusi keluarga saya sendiri, tanpa mungkin berharap akan dibantu oleh kandidat presiden yang menjadi pemenang. Anggap saja Pilpres ini hanya hiburan kecil di bulan Ramadhan 1435 H ini. Hingga siapapun nanti yang menang, akan kita sambut dengan senyuman. Kalau pasangan yang kita dukung menang, ya kita sambut dengan senyum lebar. Kalau kalah, ya terpaksa hanya senyum kecut. Seperti pagi ini, ketika Brasil kalah dari Jerman di semifinal Piala Dunia 2014 dengan skor telak 1-7, kita sambut saja dengan senyum kecut. (http://www.tribunnews.com/superball/2014/07/09/julio-cesar-bingung-gimana-jelasinnya-brasil-kalah-1-7-sama-jerman)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ditanya oleh teman di kantor, pilihan saya siapa di Pilpres ini? Ketika saya menyebut pilihan saya, dia kemudian memaksa saya untuk menjelaskan alasan memilih pasangan tersebut. Katanya, kalau alasan saya bagus, siapa tahu dia akan mengikuti pilihan saya itu. Saya hanya tertawa, karena saya tahu betapa bencinya teman saya pada orang yang saya pilih tersebut.

Masih di kantor, pada awal-awal kampanye dulu, ada mantan pimpinan saya yang menyatakan dukungan di media sosial pada salah satu kandidat. Secara terang-terangan, dia mengupload gambar editan yang berisi dukungan pada salah satu calon. Namun yang terjadi kemudian, dia dibully rame-rame di internet. Banyak yang mengecam karena pilihannya itu. Namun tidak sedikit yang menyayangkan posisinya sebagai PNS yang seharusnya netral dari hal-hal seperti itu.

Menanggapi berbagai kecaman tersebut, sayangnya mantan pimpinan itu makin memperkeruh suasana dengan komen-komen yang tidak bijak. Hal itu tentu makin membuat heboh dan menyeret komentar dari pihak pihak lainnya. Ada pimpinan radio, ada yang wartawan, bahkan anggota DPRD pun ikut-kutan terpancing berkomentar. Kami selaku bawahan pun ikut-ikutan pula menggunjingkannya. Sungguh suasana yang tidak pantas, apalagi menjelang bulan Ramadhan kala itu.

Semoga dengan berakhirnya pemilu hari ini, berakhir pula segala fitnah dan caci maki. Tidak ada lagi temen yang unfriend, yang unfollow, yang quit group, hanya gara-gara perbedaan pandangan politik di pilpres ini. Sedih rasanya melihat wall facebook penuh dengan berita berita sampah yang isinya cuma fitnah. Sedih pula rasanya melihat anjuran share berita fitnah tersebut, dengan iming-iming menambah pahala kebaikan bagi kita. Oh my God!

update



NO

LEMBAGA RISET

PRABOWO

JOKOWI

1

Populi Center

49,05

50,95

2

CSIS

48,1

51,9

3

Litbang Kompas

47,66

52,33

4

Indikator Politik Indonesia

47,05

52,95

5

Lingkaran Survei Indonesia

46,43

53,37

6

Radio Republik Indonesia

47,32

52,68

7

Saiful Munaji Research Center

47,09

52,91

8

Puskaptis

52,05

47,95

9

Indonesia Research Center

51,11

48,89

10

Lembaga Survei Nasional

50,56

49,94

11

Jaringan Suara Indonesia

50,13

49,87

 

1 comment:

  1. capresnya sih orang biasa aja.....para pendukungnya aja yang konyol.. :D

    ReplyDelete

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...