Saturday, July 26, 2014

,

Menikmati Mudik di Ujung Timur Pulau Jawa

Hari ini, Sabtu, 26/7/2014, saya berencana untuk menjemput Budi sekeluarga di Ketapang, Banyuwangi. Rencananya, Budi dan keluarga akan naik bis dari terminal Ubung Denpasar menuju terminal Gilimanuk di dekat pelabuhan. Baru setelah itu jalan kaki naik ferry ke Ketapang. Dari pengalaman, cara ini jauh lebih cepat daripada naik bis langsung dari Denpasar ke Jember. Karena dalam musim mudik sekarang ini, antrian kendaraan yang akan menyeberang sedemikian banyaknya, sehingga perlu waktu belasan jam untuk bisa naik kapal.

Sengaja saya berangkat agak pagi, dengan harapan bisa lebih awal tiba di Ketapang. Pun juga, hawa pagi rasanya lebih indah dinikmati ketika menembus kelokan jalan di hutan Kumitir. Karena itu, selepas sahur dan sholat subuh, saya segera memacu ertiga ke arah timur Kabupaten jember. Kali ini saya ditemani mbak Titin, Tia dan adiknya, serta istri saya.


Suasana jalan di Kumitir yang masih lengang

Setelah satu jam berkendara, kami segera memasuki area pegunungan Kumitir. Meski saya telah beberapa kali lewat jalan ini, namun GPS di mobil tetap saya hidupkan. Hal itu agar kelokan-kelokan jalan di depan bisa terlihat dan dapat diantisipasi sejak dini. Karena itu, head unit Skeleton yang built ini GPS di dalamnya sangat membantu perjalanan ini.


Patung Gandrung di Tikungan Gunung Kumitir

Dengan bantuan GPS itu pula, saya dengan mudah bisa mencari SPBU terdekat untuk sekedar beristirahat dan melemaskan kaki. Kali ini kami masuk ke sebuah SPBU di timur kota Kalibaru, di tepi jalan propinsi. Kebetulan di seberang jalan SPBU ada banyak berjejer pedagang panci dan alat-alat dapur aneka macam. Rupanya di daerah tersebut memang terkenal sebagai home industri alat-alat dapur.

Istirahat di SPBU Kalibaru. Latar belakang tampak penjual Panci

Ada banyak peralatan yang dijual di tempat tersebut. Ada panci, wajan, teko, tempat kue, dandang, dan macam-macam. Bahan yang dipakai pun bervariasi, mulai dari seng, alumunium, sampai teflon, bisa didapat disini. Dari segi harga pun rasanya cukup bersaing, karena pada umumnya barang yang dijual adalah buatan sendiri di belakang toko.

Bergaya di depan penjual panci

Dan jika dibandingkan dengan wisata panci yang ada di Pandaan, rasanya kualitas barang disini lebih bisa diandalkan. Karena semua barang yang dijual di sini adalah barang baru, sedangkan barang yang dijual di Wisata Panci Pandaan adalah barang BS (bekas) yang diperbarui lagi oleh penjualnya. Karena itu, kami yang semula hanya ingin melihat-lihat, akhirnya memborong beberapa barang untuk dibawa pulang.


 Sekitar pukul 08.00 kami melanjutkan perjalanan ke arah timur. Memasuki kota Genteng, jalanan agak terhambat karena volume kendaraan yang meningkat. Banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan, memanfaatkan momentum H-2 sebelum lebaran dengan berbelanja di pusat kota Genteng.

Untuk menyingkat waktu, saya mengambil jalan lurus menuju kota Rogojampi. Jalan ini bukanlah jalan utama ke Banyuwangi, sehingga lebar jalan relatif sempit dengan kondisi aspal yang kurang mulus. Namun begitu, jalan ini bisa mempersingkat perjalanan sekitar 20 km dibanding jika melalui jalan utama yang melewati kota Srono.

Setelah melewati jalan berliku-liku di dalam kota Banyuwangi, akhirnya pada pukul 09.30 kami sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Kondisi pelabuhan relatif sepi dari kendaraan yang akan menyeberang ke Bali. Namun hal sebaliknya terjadi di jalur pintu keluar, dimana nampak ratusan motor dan kendaraan roda empat berdesakan keluar dari kapal dan pelabuhan.

Setelah memarkir mobil di tempat parkir khusus kendaraan tidak menyeberang, kami segera membeli tiket untuk masuk kapal. Ada empat kapal yang sandar di pelabuhan, menunggu penumpang yang akan menyeberang. Karena kondisi yang sepi, kami bisa leluasa memilih kapal yang akan dinaiki. Dan kapal ferry Jambo VIII Banjarmasin yang akhirnya menjadi pilihan kami.

Antrian masuk kapal di Pelabuhan Ketapang

Kondisi kapal penuh dengan kendaraan, namun di ruang penumpang terasa longgar. Kebanyakan penumpang adalah turis asing yang akan berlibur ke Bali, atau keluarga non muslim dari Jawa yang memanfaatkan libur lebaran ini dengan berekreasi ke Bali. Karena kondisi angin yang kencang dan ombak tinggi, kapal terpaksa berputar putar dulu di tengah laut, sebelum akhirnya bisa merapat di pelabuhan Gilimanuk. Itupun sebelumnya harus sabar menunggu giliran sandar dengan kapal lain.



Turun dari kapal, kami segera disambut oleh Budi sekeluarga yang telah menunggu kami di depan kantor ASDP. Budi dan Irma istrinya, serta dua orang anaknya, Belka dan Abi, nampak gembira menyambut kami. Abi sendiri nampak antusias melihat kapal-kapal yang sandar di pelabuhan, dan tak sabar untuk segera menaikinya.

Karena waktu yang semakin siang, kami segera menaiki kapal untuk kembali ke Ketapang. Kapalnya masih sama, Jambo VIII. Namun kali ini suasananya sangat jauh berbeda. Jika semula kapal dipenuhi bis dan mobil-mobil pribadi, maka kali ini mayoritas penumpang adalah pengendara motor. Dek penumpang pun dipenuhi dengan celoteh dan tangis anak-anak kecil, dan wajah-wajah memakai helm yang tampak kelelahan. Jika semula musik yang diputar di kapal adalah lagu lagu pop dan lagu barat, maka kali ini hentakan dangdut koplo terasa memekakkan telinga.



Turun dari kapal, kami harus bedesak-desakan dengan penumpang lain. Kami harus berhati-hati karena banyaknya motor di dek kapal yang akan keluar.Alhamdulillah, kami bisa keluar dan segera menuju mobil yang diparkir. Dan setelah membayar biaya parkir, kami segera melaju ke arah kota Jember.

Sekitar pukul 15.00, mobil saya belokkan di rest area Kumitir. Dari pinggir jalan, rest area ini cukup mencolok dengan tatanan yang apik, mengundang orang untuk masuk dan beristirahat disitu. Bersama kami, beberapa pemudik yang lain juga berbelok di rest area ini. Hawa yang dingin dan pemandangan yang indah membuat istirahat di sini menjadi menyenangkan. Belka, Abi, dan Sita nampak riang bermain ayunan dan berkejaran di tengah taman.

Cafe & Rest Area Kumitir



Yang istimewa di tempat ini adalah Kursi Raksasa, yang terletak di ketinggian rest area. Dari kursi raksasa ini pengunjung bisa melihat pemandangan indah pegunungan Kumitir dan kelokan-kelokan jalannya. Sementara, jauh di bawah lembah, ada jalur kereta api yang membentang dari Banyuwangi ke Surabaya. Jalur ini sangat eksotis untuk dinikmati, karena melewati dua terowongan dan beberapa jembatan tinggi menyeberangi jurang.

Kursi Raksasa

Setelah sholat dan membeli beberapa oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan. Kurang satu jam lagi, saat berbuka telah tiba. Didorong oleh keinginan untuk berbuka di rumah, saya memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dari Mrawan, Garahan, sampai kota Silo, saya berpacu dengan bis-bis antar kota. Namun karena jalanan yang padat, akhirnya tepat di depan RRI Jember adzan magrib pun berkumandang. Agak kecewa karena tidak bisa tepat waktu berbuka puasa di rumah, akhirnya mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Yang penting bisa membatalkan puasa dengan seteguk air dan jajan seadanya. Dan tepat pada pukul 18.00 kami pun sampai di rumah.

0 comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...