Wednesday, September 10, 2014

, ,

Transportasi Haji di Saudi Arabia

Membaca berita tentang mogoknya bis jamaah haji di Arab Saudi, http://internasional.kompas.com/read/2014/09/07/15433741/Tiga.Bus.Jemaah.Haji.Mogok.di.Antara.Jeddah-Madinah, membuat saya teringat pengalaman menunaikan ibadah haji tahun 2008 lalu. Saat itu kami dari kloter 48 Kota Kediri juga menggunakan bis yang dicarter oleh Pemerintah Indonesia, baik itu dari Jeddah ke Mekkah, Mekkah ke Madinah, ataupun untuk transportasi sehari-hari jamaah. 

Untuk keperluan transportasi dari Maktab ke Masjidil Haram, kami memakai bis dari SAPTCO yang relatif masih baru. Bus bermerk Yutong dari China tersebut sedemikian barunya, sehingga plastik pembungkus kursinya pun masih belum dilepas. AC nya dingin, dan mesinnya pun terdengar halus. Maklum, masih baru. Waktu itu saya juga terkagum-kagum dengan fasilitas refrigerator dan water heater untuk minum jamaah. Belum lagi ada kompartemen bagasi di bawah, yang bisa dipakai tidur kru bis.

Bus SAPTCO di pelataran parkir Masjidil Haram

Hanya sayangnya, fasilitas yang bagus tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan sopir mengenali jalan-jalan di kota Mekkah. Hingga sering terjadi kami harus berputar-putar dulu mencari jalan alternatif, ketika jalan utama ditutup atau macet.

Yang lucu sekaligus juga menjengkelkan, ada saja alasan sopir tidak segera berangkat. Dia tenang-tenang saja, meski jamaah sudah gelisah karena sudah menjelang masuk sholat di Haram. Baru setelah salah seorang jamaah berinisiatif mengumpulkan 1 riyal per orang dan diberikan ke sopir, bus perlahan bergerak ke Haram.

"Indonesia bagus.....! Indonesia bagus....! Mafi muskila...(no problem)" kata sopir sambil mengancungkan ibu jarinya ke arah kami.

Meski begitu, tidak ada jaminan kami bisa sampai ke Haram. Sering juga kami kesasar, dan sopirnya menyerah. Kalau sudah seperti itu, terpaksa kami turun. Alternatifnya, kami mencari bis yang lain atau mencari taksi sendiri.

Jalan di pinggiran kota Mekkah yang mulus dan lengang
Jalan tembus dari Aziziyah ke Mina

Mencari taksi di kota metropolitan Mekkah teryata juga masalah tersendiri. Di samping kendala bahasa, tarif taksi suka dipukul seenaknya oleh sang sopir. Bisa naik berlipat-lipat dari hari biasa. Dan kalau sudah begitu, tidak ada yang namanya “pelanggan adalah raja”. Kalau mau ya sekian riyal. Kalau gak mau ya sudah, kita akan ditinggal di tepi jalan.

taksi di kota Mekkah

Alternatif lainnya, kita bisa mencegat kendaraan pribadi yang lewat yang menuju Haram (istilah untuk Masjidil Haram). Entah itu GMC, Suburban, Range Rover, atau paling apes Camry, bisa kita pakai untuk nunut ke Haram. Tapi meski nunut, tidak ada yang gratis di sana. Tetap saja kita harus bayar, dan itu juga mesti tawar menawar dulu.

Dalam hati saya juga berpikir, orang kaya dengan penampilan seperti syekh tersebut (berjenggot tebal, memakai thawb yang dilengkapi dengan ghutra, dan bertutup sorban panjang), masak sih masih perhitungan ketika menolong orang. Tapi nyatanya memang demikian. Hatta demi 2-3 riyal pun, dia masih tega memungut kita yang sama-sama mau sholat ke Haram. Padahal kalau kita bertemu orang seperti itu di Indonesia, mungkin kita rela untuk cium tangan. Saking tawadhu’nya mungkin, he..he..he..

Di samping SAPTCO, ada juga bis HAFIL. Bis ini yang kami pakai dalam perjalanan dari Jeddah ke Mekkah, dan dari  Mekkah ke Madinah. Termasuk juga dipakai ketika mengantar kami pulang dari Madinah ke bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Jadi prinsipnya, dari awal kami tiba di bandara, sampai nanti pulang ke bandara lagi, kami memakai bis yang sama. Bisnya sama, kru bisnya juga sama.

Berbeda dengan SAPTCO, bis HAFIL secara umum memang tidak baru. Bisnya kuno, dan tidak ada fasilitas mewah yang biasa ada di SAPTCO. Karena tidak bisa memilih bis, kami ya hanya bisa pasrah dan menerima saja. Hanya menurut kami, meskipun bis lama, bis HAFIL ini rasanya enak juga. Kata temenku, bis-bis di Arab rata-rata CC-nya besar. Belum lagi kualitas bensin dan solar disini sangat istimewa, sehingga kondisi mesin juga terawat.

Pemandangan kota Jeddah dari dalam bus HAFIL

Pernah satu kejadian dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah, tali pengikat bagasi tas di atap bis lepas. Kontan saja terpal penutupnya berkibar-kibar dengan suara yang riuh. Untung saja tidak ada tas yang terjatuh. Bis segera berhenti di pinggir jalan, dan sang sopir segera turun untuk membetulkan tali. Karena kebiasaan di Jawa, kami yang laki-laki berinisiatip membantu. Namun sopir malah mengusir kami, dan dengan tangan diletakkan di mulut, kami disuruh menjauh. Kata temenku yang mengerti bahasa Arab, artinya kami banyak cakap. Kakehan omong....he...he..he...


Mogok di tengah gurun pasir antara Mekkah - Madinah 

Yang unik, pada saat prosesi haji di Armina (Arafah Mina), ada bis-bis yang gundul. Artinya bis tersebut tidak ada atapnya, kecuali untuk sopir. Jadi penumpangnya duduk di dalam bis, tapi beratap langit. Biasanya bis tersebut mengangkut jamaah haji dari Iran. Gak tahu ada kepercayaan apa sehingga sampai seperti itu.

Bis tanpa atap untuk jamaah haji Iran

Namun secara umum, transportasi haji Indonesia di Mekkah relatif masih bagus. Tidak ada yang namanya jamaah sampai naik ke atap bus, seperti halnya jamaah haji dari negara lain. Juga tidak ada yang berjejal jejal sampai taraf membahayakan keselamatan, kecuali yang tidak sabar menunggu bis di berikutnya.





* thawab : baju terusan sepanjang mata kaki serta lengan yang menutup hingga ke pergelangan tangan
* ghutra : penutup kepala berbentuk persegi yang dilipat secara diagonal sehingga menghasilkan bentuk segitiga dan kemudian dipakai di atas kopiah

0 comments:

Post a Comment

silahkan masukkan komentar anda disini

Terima kasih anda telah berkunjung di blog saya ini. Semoga beberapa tulisan dalam blog ini berguna bagi anda semua...